Sukses

Makanan Jepang dari Kotoran Manusia, Sensasi atau Inovasi? Ini Penelusurannya

Liputan6.com, Jakarta Jepang memang dikenal dengan penemuan-penemuannya yang inovatif. Mulai dari teknologi hingga makanan. Menyoal makanan, banyak inovasi-inovasi yang dilakuakan Jepang untuk menciptakan makanan unik dan menarik.

Jepang terkadang juga menghasilkan inovasi yang menghebohkan dunia. Contohnya pada 2011 silam, seorang peneliti Laboratorium Okayama mengeluarkan inovasi berupa daging dari kotoran manusia. Sontak makanan Jepang dari kotoran manusia ini menarik perhatian publik.

Penemuan ini bukanlah satu-satunya, ada beberapa makanan Jepang dari kotoran manusia yang juga bikin heboh. Beberapa orang menyambut inovasi ini dengan positif namun, ada pula yang skeptis akan kebenarannya.

Jika Anda penasaran mengenai kuliner ekstrem satu ini, simak ulasan Liputan6.com mengenai makanan Jepang dari kotoran manusia yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber Selasa (9/4/2019). 

2 dari 6 halaman

Makanan Jepang dari kotoran manusia

Pada tahun 2011 nama ilmuwan Jepang Mitsuyuki Ikeda bikin heboh karena ide spektakulernya. Peneliti Laboratorium Okayama itu mencetuskan ide pembuatan daging dari lumpur kotoran manusia. Tinja-tinja manusia yang dianggap sangat melimpah di Jepang itu disulap menjadi daging sintetis agar bisa dimakan lagi dan mencegah krisis pangan di Jepang.

Ikeda percaya jika lumpur limbah kotoran manusia itu mengandung banyak sekali protein yang bisa dikembangkan lewat ekstraksi protein untuk jadi daging layak makan. Proses 'penyulapan' kotoran manusia jadi daging ini rupanya dimulai dengan pemisahan bakteri E.Coli dengan zat mikroba berbahaya. Adonan daging kotoran itupun digiling, ditambah protein kacang kedelai, perwarna merah hingga akhirnya menjadi daging serasa daging sapi.

Menurut Digital Trends, makanan Jepang dari kotoran manusia ini mengandung 63 persen protein, 25 persen karbohidrat, 3 persen lipid dan 9 persen mineral.

3 dari 6 halaman

Heboh di Berbagai Pemberitaan

Penemuan ini lantas menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang menganggapnya sebagai lelucon, ada yang menganggap hal ini sebagai inovasi yang akan membantu kesulitan pangan dunia, ada pula yang skeptis akan kebenarannya karena dianggap sebagai sensasi belaka.

Situs berita terkenal seperti Digital Trends, International Business Times, surat kabar The Guardian di Inggris, dan LA Weekly turut memberitakan makanan Jepang dari kotoran manusia ini. Berita-berita yang mereka publikasikan didasarkan pada laporan berita misterius yang diunggah ke YouTube.

Situs media seperti Forbes dan Salon pernah membahas mengenai skeptisme dari inovasi makanan Jepang dari kotoran manusia ini. Mereka membahas mengenai sang inovator Mitsuyuki Ikeda, timeline pemberitaan yang beredar, hingga kejanggalan-kejanggalan yang ada.

4 dari 6 halaman

Tentang Mitsuyuki Ikeda

Dilansir Liputan6.com dari Forbes, Tidak ada pihak yang pernah menjangkau Mitsuyuki Ikeda untuk sekadar diwawancara, atau bahkan memeriksa apakah Laboratorium Okayama benar ada. Habiskan 5 menit dengan pencarian Google dan Anda akan menemukan bahwa Okayama Laboratory hanya memproduksi perangkat medis.

Ada Universitas Okayama dengan departemen sains yang cukup besar, tetapi tidak ada Mitsuyuki Ikeda yang ditemukan di staf, atau bahkan berafiliasi dengan universitas. Hampir semua referensi online untuk Mitsuyuki Ikeda hanya terkait dengan makanan Jepang dari kotoran manusia tersebut.

Meski begitu, Mitsuyuki Ikeda bukanlah tokoh fiktif. Forbes menemukan bahwa Mitsuyuki Ikeda di Okayama lahir 4 April 1959, ia adalah Direktur Asosiasi UNESCO Okayama. Dia memiliki halaman web yang luas yang merinci latar belakang dan pekerjaannya yang merujuk pada "Membangun Sistem Pendidikan Lingkungan untuk Komunitas Global yang Damai".

Namun, sebagai insinyur lingkungan dan sipil, kredensial Ikeda tampaknya tidak cocok dengan ilmuan yang mensintesis daging dari kotoran. Dia juga tampil dalam laporan online, tertanggal 2006, diproduksi oleh Dewan Jepang tentang Dekade Pendidikan PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD-J) di mana dia digembar-gemborkan sebagai ujung tombak proyek pendidikan lingkungan di Okayama. Di sini tidak disebutkan tentang karyanya terhadap kotoran manusia.

5 dari 6 halaman

Asal usul pemberitaan

Menurut Salon, sebuah situs berita di Amerika, asal usul informasi makanan Jepang dari kotoran manusia bermula dari video 2 menit yang samar-samar menyerupai laporan berita mengenai makanan ini.

Menurut Salon, semua situs berita hanya mengandalkan video YouTube ini untuk sumbernya. Video tersebut diunggah pertama oleh "ahscotty" pada Oktober 2010, kemudian diunggah lagi pada April 2011 oleh "ill318," kali ini berjudul “Solution to the Global Food Crisis- Let them eat TURD BURGERS”.

Pada bulan Juni 2011, blog Inhabitat mengambil cerita tersebut, yang kemudian ditulis ulang oleh Digital Trends. Versi sindikasi dari karya itu diterbitkan oleh Yahoo dan ceritanya makin meledak.

6 dari 6 halaman

Kebenaran inovasi makanan Jepang dari kotoran manusia

Justin Elliot, seorang jurnalis dari Salon kemudian menyadari sebuah keanehan dari pemberitaan ini. Serangkaian cerita ini hampir identik dengan pemberitaan yang pernah muncul dalam pers internasional pada tahun 1993 silam.

Justin Elliot juga menemukan kejanggalan dari video yang beredar di YouTube tersebut. menurutnya ada beberapa momen yang memunculkan keraguan dalam video ini salah satunya lemari es pada menit ke 1:30 yang memuat label bertuliskan "Shit Burger,". Hal ini membuat beberapa komentator menyatakan bahwa ini merupakan penipuan yang cukup jelas.

Begitu Elliot mempresentasikan temuannya, sejumlah situs berita dengan malu-malu mengakui bahwa mereka mungkin telah ditipu. Beberapa, seperti The Guardian, hanya mencatat artikel tanpa penjelasan. Kata terakhirnya adalah bahwa kisah itu hampir pasti merupakan tipuan.

Forbes juga menemukan sebuah kunci dari asal usul kisah makanan kontroversial ini. Foto Ikeda dalam dokumen ESD-J yang ditemukan Forbes benar-benar mirip dengan pria di video YouTube. Dia terlihat persis seperti Ikeda, rambutnya memiliki gaya yang sama, dan keduanya memiliki cacat identik di pipi kanan.

Satu-satunya perbedaan adalah bahwa pria dalam laporan 2006 terlihat sekitar 15 tahun lebih tua. Memang tidak ada yang tahu kapan video YouTube tersebut benar-benar dibuat, jadi masuk akal jika video tersebut dibuat di tahun 90-an.

 

Loading