Sukses

12 Fakta Hari Kartini 2019 yang Perlu Diketahui Generasi Milenial

Liputan6.com, Jakarta Dalam waktu dekat, masyarakat Indonesia akan memperingati Hari Kartini yang jatuh pada hari Minggu (21/4/2019). Kartini dengan nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, atau yang biasa disingkat R.A Kartini, adalah sosok seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Perjuangannya menuntut hak perempuan atas hak mendapat pendidikan dan berpartisipasi dalam kegiatan publik menjadi pintu gerbang kesuksesan perempuan hingga sekarang ini. Maka sudah sepatutnya tanggal 21 April yang merupakan hari kelahiran R.A. Kartini diperingati untuk mengenang jasa tokoh pencetus kesetaraan gender ini.

Dalam rangka menyambut Hari Kartini 2019, banyak pihak yang meramaikan hari bersejarah ini. Salah satunya yang telah lekat menjadi budaya adalah adanya karnaval yang diadakan sekolah-sekolah di Indonesia.

Namun, beberapa fakta Hari Kartini nampaknya luput dari perhatian generasi milenial. Untuk itu, berikut Liputan6.com rangkum deretan fakta Hari Kartini 2019 yang perlu diketahui generasi milenial, seperti yang dihimpun dari berbagai sumber, Kamis (18/4/2019).

2 dari 4 halaman

12 Fakta Hari Kartini 2019

1. Lahir dari Keluarga Bangsawan dan Ulama

R.A. Kartini lahir di Jepara 140 tahun silam yaitu tepatnya pada 21 April 1879. R.A Kartini adalah putri dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah.

Sang ayah berasal dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa yang menjabat sebagai bupati negara. Sementara itu, ibunya merupakan putri dari seorang kyai di Kota Jepara.

2. Punya Saudara Tiri

R.A Kartini merupakan anak ke 5 dari 11 bersaudara. Ia memiliki saudara kandung dan saudara tiri dari hasil pernikahan Ayahnya yang kedua.

Hal ini terjadi karena adanya peraturan Kolonial Belanda yang kala itu mengharuskan seorang bangsawan untuk menikah dengan sesama bangsawan.

3. Nama R.A Punya 2 Arti Berbeda

Mengenai nama lengkap R.A Kartini, menurut tradisi Jawa, gelar Raden Ajeng digunakan untuk seorang wanita keturunan keluarga bangsawan yang belum menikah. Setelah menikah, Raden Ajeng akan diubah menjadi Raden Ayu.

4. Gemar Membaca

Selama sekolah, Kartini muda belajar Bahasa Belanda. Ia dikenal gemar membaca contohnya beberapa buku seperti Max Havelaar, surat-surat cinta karya Multatuli, serta surat kabar yang terbit di Semarang yaitu De Locomotief.

Ketertarikannya dalam membaca kemudian membuatnya memperoleh pengetahuan yang luas mengenai ilmu pengetahuan dan kebudayaan. R.A Kartini seringkali mengungkapkan keprihatinannya terhadap masalah emansipasi wanita. Ia melihat perbedaan kentara antara wanita Eropa dan wanita pribumi khususnya dalam hal pendidikan.

3 dari 4 halaman

Fakta Hari Kartini 2019

5. Gemar Menulis dan Surat Menyurat

Setelah berhenti sekolah, Kartini menghabiskan waktunya dengan kegiatan surat menyurat. Meskipun berada di rumah, Kartini aktif mengembangkan pengetahuannya dalam berbahasa Belanda dengan menulis surat untuk temannya yang berada di Eropa.

Lewat surat-suratnya, Ia membagikan ceritanya mengenai keadaan masyarakat di daerahnya kala itu kepada teman-temannya, tentang bagaimana perempuan dilarang untuk mengenyam pendidikan.

6. Surat-surat Kartini Dibukukan dan Diterjemahkan Dalam Beberapa Bahasa

Surat-surat Kartini berhasil dikumpulkan dan dibukukan oleh J.H. Abendanon, dengan judul Door Duisternis tot Licht. Selanjutnya, buku ini diterjemahkan dalam bahasa Melayu oleh Armin Pane dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Sementara itu, Agnes Louise Symmers juga menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dengan judul "Letters of A Javanese Princess".

7. Menikah dengan Pria 26 Tahun Lebih Tua

Pada usianya yang ke 24, Kartini dipaksa menikah dengan seorang bupati Rembang bernama Raden Adipati Joyodiningrat, yang berusia 26 tahun lebih tua dari Kartini.

Ditambah lagi, Raden Adipati Joyodiningrat telah memiliki 3 istri dan 12 anak. Hal itu menyebabkan R.A Kartini menolak tawaran beasiswa sekolah di luar negeri yang sudah lama ia dambakan.

8. Mendirikan Sekolah Khusus Perempuan

Dengan izin suaminya, pada tahun 1903, Kartini mendirikan sekolah khusus perempuan. Dengan bantuan pemerintah Belanda, Kartini mendirikan sekolah khusus perempuan tanpa memandang status keluarga.

4 dari 4 halaman

Fakta Hari Kartini 2019 Lainnya

9. Dikaruniai Satu Anak Laki-laki

Selang satu tahun pernikahan, Kartini dikaruniai seorang anak lelaki yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Sayangnya, empat hari setelah melahirkan, dunia tidak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan perjuangannya. Pada tanggal 17 September 1904, R.A Kartini wafat dan meninggalkan suami serta anak pertama yang baru saja ia lahirkan.

10. Namanya Diabadikan Sebagai Nama Jalan di Belanda

Perjuangan Kartini memang patut diapresiasi. Tak hanya di Indonesia, nama Kartini bahkan diabadikan sebagai nama jalan di Belanda. Terdapat 4 jalan di Belanda yang diketahui memakai nama Kartini.

Yaitu Jalan R.A. Kartinistraat di Utrecht, Jalan Kartini di Haarlem, Jalan R.A. Kartinistraat di Venio, dan Jalan R.A. Kartinistraat di Ibukota Belanda, Amsterdam.

11. Dijadikan Nama Pantai di Jepara

Salah satu pantai di Jepara diberi nama Pantai Kartini sebagai bentuk apresiasi dan rasa bangga yang ditujukan kepada Ibu Kartini. Pantai ini merupakan satu-satunya pantai yang memiliki patung kura-kura terbesar di dunia.

12. Museum R.A. Kartini di Jepara

Museum R.A. Kartini dijadikan salah satu tempat wisata di Jepara. Sebagai tempat kelahiran Kartini, keberadaannya seakan bisa dirasakan ketika menginjakkan kaki di Museum Kartini ini. Terletak tak jauh dari alun-alun, museum ini menampilkan barang-barang dan cerita mengenai Kartini semasa hidup.

Loading