Sukses

Penyebab Hipotermia dan Cara Mengatasinya, Jangan Salah Kaprah

Liputan6.com, Jakarta Belakangan ini, kisah pendaki Gunung Rinjani yang terkena hipotermia marak dibicarakan di media sosial. Dalam berita yang beredar, hipotermia disebut-sebut bisa diatasi dengan cara disetubuhi. Cara ini dipercaya dapat mengembalikan suhu tubuh penderita hipotermia menjadi normal.

Namun, cara mengatasi hipotermia dengan bersetubuh seperti yang diceritakan saksi mata justru dikritik oleh banyak orang. Pasalnya, cara tersebut bukanlah upaya penyelamatan yang tepat untuk menolong nyawa penderita hipotermia.

Hipotermia memang kerap menghantui para pendaki gunung karena suhu di sekitar gunung seringkali jauh lebih rendah dibanding suhu normal udara. Namun, sebenarnya apa itu hipotermia? Spesialis Penyakit Dalam Divisi Metabolik Endokrin, Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, Dr Tri Juli Edi Tarigan, SpPD menjelaskan,

"Hipotermia adalah suatu kondisi di mana akibat udara dingin, suhu tubuh ikut drop di bawah batas normal atau fisiologis, sehingga tidak baik atau memungkinkan bagi proses-proses normal sel," Ungkap Dr Tri Juli Edi Tarigan, SpPD.

Lebih lanjut, dokter Tri Juli mengimbuhkan bahwa tubuh yang normal biasanya berkisar pada suhu antara 35,5 sampai 37,5 derajat celsius agar dapat organ tubuh dapat bekerja dengan baik. Apabila suhu tubuh berada di bawah angka tersebut, kinerja tubuh dapat berangsur melemah hingga menyebabkan kematian.

2 dari 4 halaman

Penyebab Hipotermia

Lantas, bagaimana proses hipotermia yang biasa terjadi pada para pendaki gunung? Dilansir Liputan6.com dari laman WebMD, Kamis (25/7/2019), ketika tubuh terpapar udara dingin, sebagian besar panas tubuh keluar dari kulit, sedangkan sisanya dikeluarkan dari paru-paru.

Hilangnya panas tubuh dari kulit biasanya terjadi melalui radiasi dan dipercepat saat kulit terpapar angin atau kondisi lembap. Ketika paparan udara dingin terjadi di dalam air dingin, hilangnya panas tubuh bisa terjadi 25 kali lebih cepat dibanding saat terpapar suhu udara dingin.

Dengan kata lain, pada lokasi bersalju seperti di gunung, efek yang muncul jelas akan lebih besar dibanding terpapar angin biasa. Aktivitas organ jantung dan hati memproduksi sebagian besar dari panas tubuh. Namun, saat kinerja inti tubuh menurun, kedua organ ini memproduksi panas lebih sedikit sehingga menyebabkan terjadinya gejala mempertahankan suhu panas untuk melindungi otak.

Ketika organ tubuh gagal memproduksi panas, temperatur tubuh yang rendah dapat berakibat pada melambatnya aktivitas otak, pernapasan, dan detak jantung. Proses tersebutlah yang menjadi faktor hipotermia bisa mengancam nyawa seseorang.

Kendati demikian, bersetubuh bukanlah upaya penyelamatan yang tepat saat seseorang terserang hipotermia. Terdapat cara yang lebih tepat dilakukan sebagai upaya pertolongan pertama ketika tim medis jauh dari jangkauan.

3 dari 4 halaman

Cara Mengatasi Hipotermia

Untuk mendapatkan pertolongan yang maksimal, seseorang yang terkena hipotermia harus segera dilarikan ke rumah sakit. Namun, jika tidak memungkinkan karena korban berada di lokasi yang sulit dijangkau, maka dapat dilakukan dengan pertolongan pertama.

Pertama, evakuasi penderita hipotermia ke tempat yang lebih hangat dan tidak terpapar udara luar secara langsung. Misalnya, apabila tengah berada di gunung, maka penderita harus segera dimasukkan ke dalam tenda. Yang perlu diperhatikan, hindari gerakan memijat atau menggosok tubuh.

Pasalnya, gerakan yang terlalu kuat dapat menghentikan detak jantung. Selanjutnya, lepas pakaian, topi, sarung tangan, sepatu, kaus kaki atau semua perlengkapan yang membalut tubuh jika dalam keadaan basah.

Gunakan pakaian ekstra seperti selimut atau jaket yang kering untuk menghangatkan tubuh. Tutupi kepala dengan membiarkan wajahnya tetap terlihat. Jika tidak ada benda lain, transfer panas tubuh dari satu orang ke orang lain yang bisa dilakukan dengan cara berpelukan.

4 dari 4 halaman

Cara Mengatasi Hipotermia

Jangan lupa untuk selalu memantau pernapasan. Seseorang dengan hipotermia parah mungkin tampak tidak sadar, tanpa tanda nadi atau pernapasan yang jelas. Jika pernapasan orang itu berhenti, segera lakukan CPR.

CPR (resusitasi kardiopulmoner) harus segera diberikan jika denyut nadi tidak dapat dirasakan. Untuk itu, sebelum memulai CPR, rasakan denyut nadi selama satu menit penuh.

Jika denyut jantung berirama sangat lambat, maka tidak diizinkan untuk melakukan CPR. Pasalnya, CPR tidak boleh dimulai jika masih terdengar detak jantung atau denyut nadi.

Setelahnya, sediakan minuman hangat, terasa manis, tidak mengandung alkohol ataupun kafein untuk membantu menghangatkan tubuhnya. Namun perlu diingat untuk tidak memberi minuman secara paksa terhadap orang yang tak sadarkan diri.