Sukses

Macam-Macam Puasa Sunnah yang Limpahkan Keberkahan

Liputan6.com, Jakarta Macam-macam puasa sunnah dapat diamalkan agar memperoleh berkah dari Allah SWT. Selain puasa wajib di bulan Ramadan, umat Islam juga dianjurkan untuk melaksanakan macam-macam puasa sunnah. Meski tidak bersifat wajib, macam-macam puasa sunnah ini bisa mendatangkan keberkahan.

Macam-macam puasa sunnah ini menjadi amalan rutin Rasulullah SAW. Puasa termasuk amalan yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Dengan berpuasa seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu yang ada. Menjalankan satu dari macam-macam puasa sunnah ini bisa menciptakan ketenangan dan berkah dalam hidup.

Ada macam-macam puasa sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW. Berikut macam-macam puasa sunnah yang berhasil Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (31/7/2019).

2 dari 8 halaman

Puasa Senin-Kamis

Salah satu puasa sunnah yang paling dikenal dan dapat dilaksanakan di bulan apa saja adalah puasa senin kamis. Sunnah dari puasa senin-kamis ini tertuang seperti yang diriwayatkan Aisyah, “ Rasulullah biasanya berpuasa pada hari Senin dan Kamis,” [H.R. Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah].

Puasa ini dipercaya oleh umat muslim, bisa mendatangkan keberkahan dan ketenangan dalam menjalani hidup. Selain itu, berpuasa 2 hari dalam seminggu, yakni Senin dan Kamis, bisa menjadi rutinitas yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh.

Niat puasa sunnah di hari Senin

NAWAITU SAUMA YAUMAL ITSNAINI SUNNATAN LILLAHI TA'ALA

Artinya: Saya niat puasa hari Senin, sunnah karena Allah ta'ala.

Niat puasa sunnah di hari Kamis

NAWAITU SAUMA YAUMAL KHOMIISI SUNNATAN LILLAHI TA’ALA

Artinya: Saya niat puasa hari Kamis, sunnah karena Allah ta'ala.

3 dari 8 halaman

Puasa Daud

Puasa sunnah Nabi Dawud adalah puasa yang dilakukan selang-seling, yakni sehari puasa dan sehari berikutnya tidak. Begitu seterusnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

Berikut niat puasa Nabi Daud.

NAWAITU SHAUMA DAAWUDA SUNNATAL LILLAHI TA’ALA

Artinya : "Saya niat puasa Daud, sunah karena Allah Ta'ala"

4 dari 8 halaman

Puasa Sunnah 1-7 Dzulhijjah

Puasa sunnah 1-7 Dzulhijjah adalah puasa sunnah yang dikerjakan dari tanggal 1 hingga tangga 7 Dzulhijjah. Puasa sunnah ini adalah salah satu amalan yang dianjurkan dikerjakan dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya…” (HR. Abu Daud no. 2437)

Niat Puasa Sunnah 1-7 Dzulhijjah:

"NAWAITU SHAUMA SYAHRI DHILHIJJATI SUNNATAN LILLAAHI TA’AALA"

Artinya: Aku niat puasa sunnah di bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala

5 dari 8 halaman

Puasa Arafah

Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Bagi Muslim yang tidak menjalankan ibadah haji, puasa di tanggal 9 Muharram sangat dianjurkan. Hari tersebut dikenal dengan hari Arafah, hari saat Muslim yang berhaji menjalankan ibadah wukuf di padang Arafah.

Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata), ”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka beliau menjawab, “ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” H.R. Muslim.

Niat Puasa Arafah 9 Dzulhijjah

"NAWAITU SHAUMA 'AROFATA SUNNATAN LILLAAHI TA’AALA"

Artinya: "Aku niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala"

6 dari 8 halaman

Puasa Tasu’a

Puasa Tasu'a adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 9 Muharram. Puasa ini dilakukan untuk mengiringi puasa yang dilakukan pada keesokan harinya yaitu di tanggal 10 Muharram. Ini karena di hari yang sama yaitu tanggal 10 Muharram, orang-orang Yahudi juga melakukan puasa.

Puasa Tasu'a ini dikerjakan agar tidak menyerupai ibadah orang Yahudi. Adapun niat puasa Tasu’a adalah dengan membaca bacaan berikut:

" NAWAITU SAUMA GADHIN MIN YAUMI TASU’A SUNNATAN LILLAHI TA’ALA."

Artinya: “ Aku berniat puasa sunnah Tasu’a karena Allah Ta’ala.”

7 dari 8 halaman

Puasa 10 Muharram

Puasa Muharram adalah puasa sunnah yang dilakukan di bulan Muharram, atau tahun barunya umat Islam. Puasa Muharram biasanya dilakukan di tanggal 10 yang dikenal dengan puasa sunnah Asyura.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).

8 dari 8 halaman

Puasa 6 Hari Bulan Syawal

Bulan Syawal berada tepat setelah bulan Ramadan. Puasa sunnah ini dilakukan di tanggal yang tidak ditentukan, boleh urut maupun acak, asal masih dalam bulan Syawal. Abu Ayub mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “ Siapapun yang berpuasa Ramadan dan mengikutinya enam hari di bulan Syawal, seolah-olah ia puasa seumur hidup,” H.R. Muslim.

Dari hadis tersebut, Rasulullah menganjurkan seorang Muslim yang ingin memperoleh keberkahan untuk melaksanakan puasa selama 6 hari selama bulan Syawal.

Niat Puasa Syawal 6 Hari

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”