Sukses

Istri Komikus Hasmi: Gundala Milik Kita, Gundala Kebanggaan Kita

Liputan6.com, Jakarta Fim Gundala sebentar lagi rilis. Film superhero Indonesia ini diadaptasi dari komik karya Harya Suraminata yang dikenal dengan nama Hasmi. Sosok Gundala Putra Petir sendiri diinspirasi oleh sosok Ki Ageng Sela guru Sultan Adiwijaya pendiri Kerajaan Pajang serta kakek Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram. Gundala adalah sang penakluk petir sebagaimana Ki Ageng Sela. 

Beberapa waktu lalu, saya menemui Ibu Mujiyati di rumahnya dan berbincang lumayan lama. Perempuan yang biasa dipanggil Mbak Plenok ini adalah istri komikus Hasmi atau Harya Suraminata. Di rumah itulah Hasmi menciptakan sosok Gundala Putra Petir yang kini dalam proses adaptasi film layar lebar.

Mbak Plenok  pagi itu tampak cukup sibuk menenteng beberapa alat dapur dan kotak kerupuk di kedua tangannya. Seraya tersenyum ia berkata “Di masjid aja ya? Ini olahraga bentar.” Ia mengajak untuk berbincang di teras masjid saja. Sepeninggal Pak Hasmi, pagi Mba Plenok diisi dengan membantu ibunya di warung makan tepi jalan yang buka pagi hari saja.

“Kalo merawat koleksi bapak (Pak Hasmi,red) itu, yang khusus karya bapak saya sendirikan, saya taruh di lemari bufet kaca. Khusus karya bapak, dari karya komik, tulisan bapak, seperti naskah, terus peralatan untuk menggambar pokoknya semuanya saya jadiin satu. Di satu lemari itu karya bapak semua, dari cover yang bapak buat, naskah teater, naskah film, naskah sinetron saya jadiin satu di satu lemari,” katanya mengawali perbinjangan.

Mbak Plenok adalah sosok yang ramah. Ia mengisahkan banyak hal tentang Pak Hasmi yang meninggal pada 6 November 2016 di usia 69 tahun. Ia juga mengungkapkan pandangan keluarga atas film Gundala yang disutradarai Joko Anwar tersebut.

2 dari 5 halaman

Karya-karya Pak Hasmi Tersimpan Rapi

Mbak Plenok mengajak saya melihat-lihat bermacam barang peninggalan Pak Hasmi. Rumah tersebut cukup sederhana. Pada salah satu sudut rumah, terdapat berbagai penghargaan yang dibingkai dengan baik. Pada sisi dinding lain tampak beberapa wayang kulit gagah bertengger. Di bawahnya, foto Pak Hasmi yang ikonik dengan baju “Gundala Cuci Nama” terpajang dengan dua foto lainnya.

Di lemari kayu yang besar tanpa kaca, terdapat banyak buku  bacaan seperti novel, komik dan jenis buku lainnya. Semua merupakan koleksi Pak Hasmi. Ada juga beberapa komik Amerika yang memang sudah terkenal seperti The Avengers hingga komik-komik karangan penulis lainnya yang dikirimkan oleh sahabatnya kepada Pak Hasmi.

Di sisi lain, ada sebuah lemari kecil dengan kaca di sebelah kiri pintu masuk terdapat karya-karya Pak Hasmi dan peninggalan-peninggalannya yang semuanya digunakan dalam proses membuat komik. Aneka peralatan menggambar, berbagai naskah yang umurnya sudah tidak muda lagi, komik-komik yang beberapa bagiannya sudah menguning, dan tentu saja ada cetakan gambar Gundala Putra Petir.

3 dari 5 halaman

Keluarga Para Seniman

Keluarga besar Pak Hasmi banyak yang berkecimpung di dunia seni, terutama komik. Sebut saja, Jan Mintaraga yang merupakan saudara beliau sendiri. Karya-karyanya juga tidak kalah terkenal pada masanya, sebut saja Jaka Lola, Sebuah Noda Hitam, hingga Kapten Halilintar.

Selain itu, ada juga Banuarli Ambardi yang merupakan keponakan Pak Hasmi dengan karyanya seperti Herbintang hingga Untara. Mereka inilah yang kerap kali membantu Pak Hasmi dalam pekerjaan membuat komik.

Sedangkan untuk anak-anak Pak Hasmi, walaupun tidak menggambar komik seperti almarhum ayahnya, mereka tetap menggeluti bidang seni. Anak pertama mengikuti seni tari, dan yang kedua aktif di seni teater sejak kecil.

Dalam mendapatkan ide atau inspirasi untuk proses kreatifnya, menurut penuturan Mbak Plenok, suaminya memiliki kebiasaan yang cukup unik. Pak Hasmi saat mencari inspirasi sering mondar-mandir sembari membawa kertas kecil. Saat mendapatkan ide, beliau langsung mencatatnya di kertas kecil tersebut lalu disimpan di berbagai sudut rumah, seperti sudut meja, sudut lemari, dan sebagainya.

Hal ini sebenarnya kurang disetujui oleh Mba Plenok karena khawatir hilang  Meski begitu, Mba Plenok berusaha untuk mengingat tempat-tempat tersebut untuk membantu Pak Hasmi.

Tak jarang pula Pak Hasmi mendapatkan ide dengan berdiam diri saja di sofa yang sandarannya sudah dipenuhi bekas garukan kucing. Lalu saat dapat ide, ia langsung menuliskannya di sebuah kertas. Mba Plenok menceritakan bahwa saat akan membuat komik Pak Hasmi selalu bercerita kepada keluarga, bahkan meminta tolong untuk melakukan berbagai hal menarik.

“Saya biasanya atau anak saya disuruh begini (sambil mencontohkan seseorang sedang  mengangkat sesuatu), ini gunanya nanti untuk digambar di sebuah kertas hasilnya memang wangun mas, enggak kaku, enggak wagu,” kata Mba Plenok.  

“Plen njenengan disitu, dengan posisi seperti itu,” tambahnya, menirukan kata-kata Pak Hasmi saat meminta tolong menirukan sesuatu yang ingin digambar. Hal ini menurut Mbak Plenok agar sesuatu yang digambarkan terlihat lebih nyata, karena hasil gambar yang dilihat dengan mata kepala secara langsung akan lebih hidup dibandingkan dengan bila dibayangkan saja.

4 dari 5 halaman

Tentang Rilis Film Gundala

Film Gundala yang diangkat dari komik Gundala Putra Petir karangan Pak Hasmi ini akan segera dirilis pada 29 Agustus 2019 ini. Diarahkan oleh Joko Anwar yang karya-karyanya sudah meraih berbagai macam penghargaan, tentunya menjadi jaminan kualitas bagi Film Gundala ini. Selain itu, jajaran pemeran film ini pun tidak main-main, sebut saja pemeran Gundala sendiri yaitu Abimana Aryasatya yang telah membintangi banyak film berkualitas.

Diakui Mbak Plenok, pembuatan film Gundala ini membuatnya sangat senang. Ia mengatakan bahwa proses perencanaan film Gundala ini sudah dibicarakan sejak lama. Walaupun dulunya sudah pernah juga difilmkan pada tahun 1981, Mba Plenok merasa rilisnya film Gundala yang sekarang sangat istimewa. Apalagi film Gundala ini menjadi jembatan bagi banyak jagoan atau patriot berikutnya yang akan segera difilmkan juga.

Namun dengan raut wajah yang sedikit berubah Mba Plenok menambahkan: “Saya suka, saya senang, sekaligus saya sangat sedih sekali. Sedihnya karena film ini kan yang selama ini dinanti-nanti bapak. Untuk yang satu ini bapak sudah lama menanti. Di saat ini bisa terwujud dan rilis itu saya masih enggak rela, harusnya bapak ikut melihat dan merasakan bagaimana rasa bangga ini juga,” ujarnya

Telah diperlihatkan beberapa cuplikan dan selalu mengikuti perkembangan pembuatan filmnya, Mbak Plenok mengaku mempercayai semua yang terlibat dalam film ini akan melakukan yang terbaik dan mendoakan dengan sepenuh hati untuk kelancaran pembuatan film.

5 dari 5 halaman

Sosok Pak Hasmi di Mata Istri

Mbak Plenok bersemangat saat menceritakan kehidupan kreatif Pak Hasmi. Menurutnya, suaminya adalah pribadi yang penyayang dan sangat berusaha mengerti keadaan anak-anak dan istri.

Walaupun Pak Hasmi mulai berkeluarga pada usia 53 tahun, beliau tetap mengayomi keluarganya dan selalu ada buat anak-anak. Dikatakan Mba Plenkk, bapak tidak pernah sekalipun menganggap Mbak Plenok sebagai “konco wingking” atau “ngladeni bojo”. Istrinya selalu dibawa dan diikutsertakan dalam setiap kegiatan yang dilakukan, agar mengerti juga dengan dunia berkesenian yang digelutinya. Begitulah cara bapak menjaga hubungan romantis rumah tangganya.

Termasuk dalam mendidik anak, bapak tidak otoriter. Menurut Mbak Plenok, Pak Hasmi sosok sangat terbuka pada anak. Bahkan bapak akan meminta maaf pada anaknya bila memang ia melakukan kesalahan. Begitulah toleransi yang ditunjukkan Pak Hasmi pada anak-anaknya. Setiap ada persoalan dalam keluarga selalu didiskusikan bersama. Sesibuk apapun, saat membuat komik atau sedang melakukan pekerjaan lainnya, ia akan selalu menyediakan waktu untuk anak-anaknya.

“Bapak di mata keluarga adalah sosok yang top, the best dan sangat pengertian,” kata Mba Plenok bersemangat.

Menceritakan tentang namanya yang ternyata pemberian dari bapak yang telah dikenalnya sejak Kelas 2 Sekolah Dasar, raut muka Mba Plenok sedikit menahan sedih.

“Saya kecil dari keluarga tidak mampu, dulu bapak sering melihat saya saat jual gorengan di Jalan Magelang,” kisahnya.

Lalu Pak Hasmi akan bilang: “Seandainya aku punya kuasa, apa ya … sakti, Plenok itu pengen saya telan saja, ben uripe enggak rekoso, biar hidupnya enggak sengsara,” kata Mba Plenok menirukan kata-kata bapak sembari menitikkan air mata.

“Dan yang sampai sekarang sangat berkesan bagi saya itu, saat bapak bilang “Kulo ngepek njenengan, Saya memperistri kamu saya pengen membahagiakan kamu Plen, aku ra kepengen membuat kamu menderita lagi. Kata-kata itulah yang terucap waktu bapak mau meninggal,” katanya.

Tapi, tiap kesedihan usai ditinggal Pak Hasmi pergi untuk selamanya, karya-karyanya yang kini selalu menemani kehidupannya. Setelah melihat beberapa karya Pak Hasmi di bufet kaca, Mba Plenok kembali berkata dengan semangat:

“Saya bangga bapak bisa meninggalkan karya yang bisa diterima oleh masyarakat luas dan diakui dengan diwujudkannya film ini. Saya berharap film ini nanti akan menjadi pintu gerbang untuk karya-karya anak negeri lainnya entah komik atau lain-lain yang nanti juga diangkat ke layar lebar,” tuturnya.

“Gundala milik kita semua. Gundala kebanggaan kita semua,” lanjutnya dengan sangat bersemangat. 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
6 Potret Abimana Aryasatya dan Inong Ayu, Pasangan yang Selalu Harmonis