Sukses

4 Perjuangan Dokter dan Perawat di Wuhan Rawat Pasien Virus Corona, Mengharukan

Liputan6.com, Jakarta Penyebaran virus Corona selama beberapa hari terakhir memang tengah menjadi perbincangan masyarakat. Bukan hanya di Indonesia saja akan tetapi di berbagai belahan dunia lainnya.

Virus Corona sendiri disebut-sebut berasal dari sebuah pasar yang terdapat di Wuhan. Bahkan, sekitar lebih dari 20 ribu orang terindikasi terinfeksi virus Corona. Korban meninggal pun mencapai 427 orang. Meski begitu, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh dari penyakit satu ini juga terus bertambah. Diperkirakan pasein sembuh telah mencapai 727 orang.

Wabah virus ini yang terus berkembang dan bertambah, membuat rumah sakit penuh dengan pasien yang terserang virus Corona. Perjuangan para staf medis, baik dokter ataupun perawat pun patut untuk diacungi jempol. Banyaknya pasien yang berada di rumah sakit membuat para staf medis harus bekerja lebih ekstra dalam penanganan wabah virus Corona ini.

Dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (5/2/2020) berikut ini beberapa kisah perjuangan dokter serta perawat di Wuhan demi merawat pasien wabah virus Corona.

2 dari 5 halaman

1. Perawat yang rela botak

Saat penanganan pasien yang terjangkit virus Corona, para perawat maupun dokter haruslah menggunakan pakaian steril tertutup. Tentu saja penggunaan baju steril ini tidaklah mudah membutuhkan waktu cukup lama terutama bagi para perawat wanita.

Seorang perawat yang bekerja di sebuah rumah sakit di Wuhan, memilih untuk mencukur habis rambutnya alias botak. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dirinya saat bekerja terutama saat mengenakan pakaian steril.

Perawat bernama Shan Xia ini memutuskan untuk mencukur seluruh rambutnya guna menghindari adanya infeksi silang. Selain itu, ia pun bisa menghemat waktu saat menganakan ataupun melapas pakaian steril di rumah sakit.

3 dari 5 halaman

2. Rela menikah hanya 10 menit

Dokter yang tengah bertugas di sebuah rumah sakit yang ada di Wuhan ini hanya memiliki waktu 10 menit saja untuk melangsungkan pernikahan. Pernikahan yang digelar di Heze, Shandong tersebut menjadi perbincangan publik. Bukan hanya waktu upacara pernikahannya saja yang singkat, akan tetapi pada acara berlangsung, pernikahan tersebut hanya dihadiri oleh lima orang saja termasuk pasangan pengantin.

Pasangan ini sengaja tidak mengundang tamu untuk hadir demi menghindari adanya penyebaran infeksi virus Corona yang tengah mewabah. Bahkan, setelah pernikahan berlangsung, sang dokter yang menjadi pengantin pria pun langsung kembali ke rumah sakit tempatnya bertugas.

4 dari 5 halaman

3. Kulit para perawat serta dokter berkerut dan luka

Bekerja selama berjam-jam bahkan hingga tak pulang ke rumah tentu saja membuat para perawat dan dokter yang bertugas harus menggunakan pakaian steril secara terus-menerus. Tak hanya itu saja, mereka juga diwajibkan untuk mengenakan masker wajah serta kacamata khusus saat menggunakan pakaian steril.

Akan tetapi karena hal ini, kelembaban pada kulit mereka pun berkurang. Tak sedikit para staf medis yang mengalami kulit berkerut-kerut meninggalkan cap bekas penggunaan masker dan kacamata karena terlalu ketat.

Bahkan, beberapa dari mereka juga mengalami luka-luka di bagian bekas masker dan kacamata. Tentu saja keadaan para staf medis ini cukup membuat banyak orang miris melihatnya.

5 dari 5 halaman

4. Staf medis meninggal dunia karena kelelahan

Bekerja tanpa henti demi merawat para pasien yang terjangkit virus Corona tentu saja bukan hal yang mudah. Seorang staff medis bernama Song Yingjie yang baru berusia 28 tahun pun ditemukan meninggal dunia karena kelelahan oleh rekan kerjanya.

Sebelumnya diketahui jika Song Yingjie telah bekerja selama 10 hari berturut-turut tanpa istirahat yang cukup. Ia merupakan seorang kepala bagian di sebuah rumah sakit di Henshang yang turut bertanggungjawab menahan penyebaran virus Corona.