Sukses

5 Jenis Infeksi Otak yang Timbulkan Komplikasi Berbahaya, Tak Hanya Meningitis

Liputan6.com, Jakarta Jenis infeksi otak yang timbulkan komplikasi berbahaya tidak hanya meningitis. Penyakit meningitis yang dikabarkan menjadi penyebab meninggalnya Glenn Fredly pada Rabu (8/4/2020) petang. Namun, tidak hanya meningitis yang merupakan penyakit infeksi otak yang bisa berakibat fatal bagi tubuh.

Otak merupakan salah satu organ paling kompleks dan berperan penting dalam mengendalikan banyak fungsi tubuh. Maka dari itu, saat mengalami infeksi otak, sebagian besar kasus bisa menimbulkan komplikasi berbahaya jika tidak segera diobati.

Infeksi otak merupakan suatu kondisi ketika otak atau jaringan di sekitarnya terinfeksi oleh virus, bakteri, jamur, ataupun parasit.  Infeksi otak bisa memengaruhi berbagai organ lain, sehingga menghasilkan gejala yang berbeda-beda.

Berikut Liputan6.com rangkum tentang jenis infeksi otak yang timbulkan komplikasi berbahaya dari berbagai sumber, Jumat (10/4/2020).

2 dari 7 halaman

Faktor Risiko Seseorang Mengalami Infeksi Otak

Sebelum mengenal beberapa jenis infeksi otak, kamu tentunya perlu mengenali faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi otak, sebagai berikut:

- Belum mendapatkan vaksinasi.

- Mengalami cedera kepala.

- Terdapat infeksi pada gigi dan rongga sinus.

- Berusia lebih dari 60 tahun.

- Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV/AIDS, efek samping kemoterapi, diabetes, kecanduan alkohol atau penyalahgunaan obat terlarang.

3 dari 7 halaman

Meningitis

Jenis infeksi otak yang timbulkan komplikasi berbahaya yang pertama adalah meningitis. Meningitis merupakan peradangan yang terjadi di lapisan pelindung otak dan saraf tulang belakang yang disebut meninges.

Meningitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus, namun tidak jarang juga disebabkan oleh bakteri dan jamur. Penyakit ini dapat terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak atau bayi.

Gejalanya berupa sakit kepala hebat, demam tinggi, mual dan muntah, leher kaku, kejang, linglung hingga sulit konsentrasi. Meningitis jika tidak segera ditangai dapat menyebabkan cacat dan kematian.

4 dari 7 halaman

Ensefalitis

Jenis infeksi otak yang timbulkan komplikasi berbahaya selanjutnya adalah ensefalitis. Penyakit ini merupakan peradangan yang terjadi pada otak akibat infeksi virus, tapi juga dapat terjadi karena infeksi bakteri dan jamur.

Biasanya Ensefalitis ini disebabkan oleh beberapa virus seperti virus herpes simpleks, varisela atau cacar air, virus Epstein-Barr, hingga virus campak. Gejalanya berupa demam tinggi dan sakit kepala, lalu beberapa jam atau beberapa hari kemudian kamu akan sulit berbicara, linglung, tubuh sulit digerakkan, dan kejang.

Segeralah temui dokter jika kamu mengalami gejala-gejala tersebut, karena kemungkinan disebabkan oleh ensefalitis.

5 dari 7 halaman

Malaria Serebral

Jenis infeksi otak berikutnya adalah malaria serebral. Infeksi otak satu ini disebabkan oleh malaria yang tidak diobati. Gejalanya berupa demam, menggigil, kejang, mual muntah, kesulitan bicara, gangguan pendengaran atau penglihatan, sakit kepala berat, perubahan perilaku, serta penurunan kesadaran atau koma.

6 dari 7 halaman

Abses Otak

Abses otak merupakan salah satu jenis infeksi otak yang timbulkan komplikasi berbahaya. Kondisi ini bisa terjadi di bagian mana saja pada otak dan disebabkan oleh infeksi bakteri yang mengakibatkan penimbunan nanah dan pembengkakan di otak.

Gejalanya berupa menurunnya kemampuan berbahasa dan menggerakkan tubuh, gangguan penglihatan, lambat dalam memberikan respons atau berpikir, mual muntah, sulit fokus, dan mudah mengantuk.

Jenis infeksi otak ini perlu segera ditangani oleh dokter. Jika tidak, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi berbahaya seperti kerusakan otak permanen atau kecacatan, bahkan juga dapat mengakibatkan kematian.

7 dari 7 halaman

Toksoplasmosis

Jenis infeksi otak satu ini disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondii yang menyerang organ tubuh tertentu, termasuk otak. Infeksi otak ini bisa menimbulkan gejala berupa demam, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, kejang, penurunan kesadaran, atau gangguan koordinasi tubuh.

Penyakit ini rentan terjadi pada orang yang sering bersentuhan dengan kotoran kucing atau memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya karena pengobatan kemoterapi, mengonsumsi obat-obatan imunosupresan, dan infeksi HIV.