Sukses

Akibat Corona, Pasangan Ini Kehilangan Pekerjaan dan Kini Hidup di Hutan

Liputan6.com, Jakarta Wabah Corona Covid-19 yang tengah merebak di berbagai negara saat ini menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kehidupan masyarakat. Tidak hanya merenggut banyak korban jiwa, virus ini juga menghantam perekonomian masyarakat di negara yang terjangkit virus Corona Covid-19.

Banyak keluarga yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena mengalami penurunan pendapatan. Bahkan ada pula orang-orang yang tidak memiliki pendapatan sama sekali karena kehilangan pekerjaannya. Hal ini karena banyak perusahaan, restoran hingga toko-toko yang mengurangi atau bahkan menghentikan operasionalnya demi meminimalisir penyebaran virus Corona Covid-19.

Alhasil dampak buruknya juga berimbas kepada pegawai ataupun para pekerja lainnya. Pasangan suami istri, Ashley Khan dan Katie Bland dari Bolton, Greater Manchester merupakan salah satu contoh dari sekian banyak orang yang terkena imbas dari pandemi global tersebut.

Keduanya terpaksa harus kehilangan tempat tinggal akibat merebaknya virus corona. Ashley yang kesehariannya bekerja sebagai pelukis dan dekorator kehilangan mata pencahariannya saat virus Corona Covid-19 mewabah di negaranya. Hal itu mengakibatkan pria berusia 37 tahun itu tidak mampu lagi membayar sewa tempat yang dihuninya bersama sang istri.

2 dari 3 halaman

Tinggal di Dalam Hutan

Mirisnya, karena sudah tidak punya tempat lain untuk dihuni, pasangan tersebut akhirnya terpaksa memutuskan untuk tinggal di dalam hutan di Rivington dengan sebuah tenda. Hal itu agar keduanya terhindar dari orang lain dan tidak menggelandang di tengah kota.

"Saya sedang bekerja, tetapi situasi virus corona terjadi dan itu membuat saya menjadi pengangguran," kata Ashley seperti dikutip oleh Liputan6.com dari Mirror, Jumat (17/4/2020).

"Saya telah memberi uang kepada pemilik rumah saya tetapi begitu diambil, mereka memberi kami pemberitahuan dan mengatakan kami harus pergi," lanjut Ashley.

Setelah diminta keluar dari tempat tinggalnya pasangan tersebut memutuskan untuk mencari tenda dengan uang yang masih dimiliki. Sebenarnya pemerintah setempat telah bergerak untuk memastikan tidak ada yang diusir dari tempat tinggalnya selama krisis ini, tetapi Ashley dan Katie sepertinya di luar jaring pengaman sosial.

Semula Ashley dan Katie membayar sewa akomodasi secara tunai. Oleh karena itu ketika lockdown dimulai, pasangan tersebut tidak mendapat perlindungan.

"Kemudian sang pemilik hunian masuk dan mengambil kunci-kunci itu dan berkata bahwa kami memiliki waktu sampai malam itu untuk mengeluarkan barang-barang kami dan jika kami tidak melakukannya, itu akan menjadi lebih rumit. Karena saya tidak ingin terlibat perselisihan, kami langsung pergi," ungkap Ashley.

3 dari 3 halaman

Barang-barangnya Dicuri saat Mencari Makanan

Meski memutuskan untuk tinggal di dalam hutan, pasangan itu masih perlu pergi ke kota secara berkala untuk mendapatkan makanan dan persediaan lainnya. Kemalangan tak dapat ditolak, suatu hari ketika pasangan itu kembali dari kota, Ashley dan Katie menemukan tendanya telah dirusak oleh orang tidak bertanggung jawab.

Bahkan pakaian Katie yang disimpan di tenda raib dicuri oleh orang tersebut. Ashley menduga perusakan dan pencurian itu dilakukan oleh anak-anak muda yang menemukan tendanya di hutan dan mungkin tidak tahu itu adalah rumah seseorang.

"Kami berkemah di Rivington beberapa minggu yang lalu dan kami pikir tidak ada orang di sana, tetapi ketika kami pergi keluar, seseorang merusak tenda kami. Kami telah mencoba menyembunyikannya dengan ranting-ranting. Mungkin seseorang melihatnya dan menemukannya, aku tidak tahu, tetapi ketika kami kembali itu robek dan seseorang telah mencuri banyak pakaian Katie," tutur Ashley

Katie mengaku tidak punya pakaian lagi, selain yang ia kenakan saat itu. Ia kebingungan dimana harus mencari pakaian pengganti karena toko-toko sudah tutup. Karena tendanya rusak, pasangan ini terpaksa membawa semua barang yang bisa dibawanya ketika bepergian ke mana saja. Meskipun itu terasa sulit saat berjalan sejauh 9,6 km ke pusat kota Bolton.

"Kami harus membawa semua yang ada di sekitar kami sehingga itu benar-benar terasa tidak nyaman tetapi kami tidak memiliki ransel yang layak," Kata Katie.

Karena kesulitan berjalan dengam membawa banyak barang, wanita berusia 26 tahun itu mengatakan dirinya sempat terjatuh dan mendapat luka di beberapa bagian tubuhnya. Katie sempat menerima manfaat dari pemerintah dan telah berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan karena sejumlah masalah kesehatan. Tetapi kini ia ingin mencoba tetap sehat selama pandemi berlangsung.

Meskipun mengisolasi diri jauh dari pemukiman, pasangan ini masih khawatir tertular oleh virus Corona Covid-19 dalam perjalanan ke kota. Sebelumnya, para tunawisma yang ada di Bolton dibantu oleh sejumlah organisasi, termasuk Homeless Aid UK, dengan diberi makanan dan persediaan lainnya. Namun karena wabah virus corona membuat badan amal dan kelompok pendukung lainnya harus bekerja ekstra, sehingga kesulitan untuk membantu para tunawisma tersebut.