Sukses

Akibat Corona Covid-19, Pramugari Ini Alih Profesi Jadi Tukang Cukur Rambut

Liputan6.com, Jakarta Virus Corona Covid-19 tidak hanya berimbas terhadap sektor kesehatan, namun ternyata juga memberi dampak buruk pada perekonomian masyarakat. Banyak orang yang tidak dapat bekerja seperti biasanya dan bahkan ada yang diberhentikan dari tempatnya bekerja (PHK).

Hal itu mengakibatkan orang-orang tersebut kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pemerintah di berbagai negara telah berusaha memberi bantuan kepada warganya, namun tetap saja banyak warga yang belum tercukupi kebutuhannya. Meski telah kehilangan pekerjaan, orang-orang tersebut tidak hanya tinggal diam dan mengandalkan bantuan pemerintah.

Orang-orang ini berusaha mencari cara lain untuk mendapatkan rezeki dan akhirnya beralih profesi sehingga perekonomiannya sedikit tertolong. Salah satu dari sekian banyak orang yang beralih profesi di saat wabah Corona Covid-19 adalah Thawanan Thawornphatworakul.

Wanita asal Thailand ini sebelumnya bekerja sebagai pramugari pada sebuah maskapai penerbangan ternama di Bangkok, Thailand. Namun setelah maskapai tempatnya bekerja menutup operasional penerbangan akibat pandemi Corona Covid-19, Thawanan harus mencari cara lain untuk bertahan hidup.

2 dari 3 halaman

Alih Profesi Jadi Tukang Cukur Rambut

Wanita berusia 36 tahun itu harus memutar otak dan akhirnya memutuskan untuk alih profesi menjadi tukang cukur rambut. Ia kemudian mengubah sebuah kamar di rumahnya menjadi salon potong rambut.

Thawanan rata-rata mendapat dua hingga tiga pelanggan perhari dan ia memasang tarif sebesar 150 Baht atau sekitar Rp 70.000 per-orang. Ia mengatakan penghasilannya jauh lebih kecil dari gaji saat bekerja pada maskapai, tetapi itu cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Penghasilan di sini membantu dengan beberapa pengeluaran dan membayar tagihan," kata Thawanan seperti dikutip oleh Liputan6.com dari Asiaone, Kamis (14/5/2020).

3 dari 3 halaman

Pramugara Lainnya Alih Profesi Jadi Ojek Online

Sementara itu seorang pekerja penerbangan lainnya yang bernama Kosit Rattanasopon juga terpaksa banting setir. Pramugara berusia 37 tahun tersebut beralih profesi menjadi kurir makanan.

Kosit sudah bergabung dengan salah satu perusahaan transportasi online. Ia menyimpan seragam pramugaranya dan mengenakan jaket profesi barunya. Setiap hari ia berada di jalanan untuk mengantar makanan dengan sepeda motornya.

Dengan pekerjaan barunya sebagai ojek online, Kosit mampu menghasilkan sekitar 1.000 baht atau sekitar Rp 460.000 dalam sehari. Jumlah tersebut cukup untuk membantu ayah dan saudara perempuannya yang memasak makanan kotak untuk dijual secara online.

"Saya tahu segalanya tidak akan sama lagi untuk setidaknya satu tahun ke depan, jadi saya harus terus melakukan ini," kata Kosit.

Masyarakat Thailand yang memiliki pekerjaan baru termasuk orang beruntung di negara tersebut. Sekitar empat juta orang Thailand bekerja di sektor pariwisata, dan sebagian besar menghadapi setahun atau lebih dari hilangnya pendapatan sampai kondisi kembali kondusif.