Sukses

Bertahan di Tengah Pandemi, Pengusaha Konveksi Ini Siasati Pasar dengan Produksi APD

Liputan6.com, Jakarta Tak dipungkiri, pandemi covid-19 di Indonesia memberi hantaman telak pada sektor ekonomi. Tak ayal pemilik bisnis skala kecil hingga besar harus putar otak. Beragam cara dilakukan demi bertahan dari krisis yang dialami.

Dampak pandemi COVID-19 turut dirasakan Husky Apparel, salah satu pelaku usaha konveksi pakaian dari Yogyakarta. Ganasnya pandemi covid-19 bahkan berdampak pada omzet perusahaan turun karena pasar sangat lesu. 

"Pandemi berdampak sama omzet perusahaan yang mengalami penurunan. Dulu bisa 4.500 kaos/triwulan, tapi sekarang 1000 saja susah karena pasar benar-benar lesu,” ujar Ibrahim Wibowo atau akrab dipanggil Boim, Chief Marketing Officer dari Husky Apparel yang ditemui di kantornya, pada Jumat (13/11/2020).

Pengaruh turunnya omzet perusahaan juga tidak lepas dari menurunnya permintaan pasar mereka yaitu murid sekolah dan perguruan tinggi.

“Pasar awalnya fokus buat kaos custom untuk murid sekolah atau mahasiswa perguruan tinggi. Tapi karena kegiatan kampus atau sekolah lagi nggak ada, jadi susah juga buat mengandalkan order dari mereka," lanjut Boim menjelaskan.

Hal tersebut merupakan imbas diberlakukannya proses belajar mengajar secara daring. Berdampak tidak adanya aktivitas di lingkungan sekolah maupun kampus. Sedangkan berbagai kegiatan sekolah atau kampus sarat penggunaan atribut seperti kaos.

2 dari 3 halaman

Produksi Masker hingga Mengubah Target Pasar

Kondisi sulit akibat pandemi COVID-19 menuntut pelaku usaha segera mencari jalan keluar. Begitu pula dengan Husky Apparel. Langkah perusahaan diambil dengan produksi masker kain dan mengubah target pasar.

"Untuk memperbaiki kondisi dan bertahan di masa pandemi, kami coba membuat masker kain. Hasilnya cukup lumayan, pada tiga bulan pertama bisa menjual sampai 5000 pcs masker kain. Selain itu kami juga mengubah target pasar," jelas Boim.

Boim lanjut menjelaskan, target pasar Husky Apparel yang awalnya fokus pada pembutan kaos anak sekolah dan kampus, saat ini beralih membuat seragam untuk retailer atau pemilik usaha.

"Target pasar Husky awalnya anak sekolah dan mahasiswa perguruan tinggi. Tapi karena order dari mereka menurun, saat ini kami mengubah target pemasaran ke pemilik usaha yang punya karyawan, seperti minimarket atau sejenisnya yang membutuhkan seragam," pungkas Boim.

3 dari 3 halaman

Dampak COVID-19 Dirasakan Pengusaha Konveksi Lainnya

Kondisi serupa juga dirasakan pengusaha lainnya, yaitu Mutiara Konveksi. Usaha konveksi dari Yogyakarta ini turut terimbas pandemi COVID-19. Hal tersebut menyebabkan omzet perusahaan yang ikut turun.

"Karena pandemi ini omzet perusahaan sangat turun. Biasanya produksi bisa 100-200 kaos per hari, tapi sekarang 50 kaos saja tidak ada," terang Ibu Hartinem selaku pemiliki Mutiara Konveksi.

Turunnya omzet ini juga merupakan imbas dari kebijakan untuk mengurangi kegiatan yang berpotensi menimbulkan keramaian seperti tempat wisata. Pasalnya, sebagian besar order di Mutiara Konveksi berasal dari komunitas dan pengelola tempat wisata.

Kendati demikian, roda bisnis harus terus berjalan. Berbagai cara dilakukan Mutiara Konveksi untuk bertahan dari serangan pandemi COVID-19, salah satunya dengan menerima pesanan masker dan APD.

"Sekarang terima order masker atau APD, itupun kalau ada yang memesan," lanjut beliau.

Meski kondisi pandemi COVID-19 sangat berdampak bagi bisnis baik kecil maupun besar. Dengan beragam cara yang diterapkan oleh Husky Apparel dan Mutiara Konveksi, mampu membantu perusahaan untuk perlahan keluar dari keterpurukan akibat pandemi COVID-19.