Sukses

Pengertian Hadits dalam Hukum Islam, Sejarah, dan Jenis-Jenisnya

Liputan6.com, Jakarta Pengertian hadits penting diketahui bagi setiap umat Islam. Hadits merupakan sumber hukum Islam setelah Al-Qur'an. Posisi hadits sangat penting dalam Islam.

Memahami pengertian hadits, bisa membantu memahami peran hadits dalam Islam. Pengertian hadits bisa menjadi pedoman dan tuntunan bagi umat Islam dalam kehidupannya. Hadits merupakan bagian dalam hukum agama dan pedoman moral setelah Al-Qur'an.

Pengertian hadits sangat berkaitan dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW. Pengertian hadits menjadi pelengkap dan penyempurna umat Islam dalam memaknai ajaran agama. Inilah pentingnya mempelajari hadits.

Pengertian hadits bisa dipahami dari etimologi maupun secara harfiah. Berikut pengertian hadits, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (2/2/2021).

2 dari 7 halaman

Pengertian hadits

Dalam bahasa Arab hadith (حديث) berarti "laporan", "akun", atau "naratif". Kata Hadits juga berarti al-khabar (berita), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Bentuk pluralnya adalah al-ahadits.

Dalam terminologi Islam pengertian hadith berarti melaporkan, mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad. Para ulama hadits mengartikan Hadits sebagai segala ucapan, perbuatan dan keadaan Nabi. Keterangan ini mengindikasikan bahwa segala yang berasal dari Rasulullah, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun berupa hal keadaan termasuk dalam kategori Hadits.

Sedangkan menurut ulama usul fikih memandang pengertian hadits hanya yang terkait dengan hukum syara`, yakni segala perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi yang terkait dengan hukum.

Perkembangan Hadits merupakan elemen penting selama tiga abad pertama sejarah Islam, dan kajiannya memberikan indeks yang luas pada pikiran dan etos Islam.

3 dari 7 halaman

Sejarah hadits

Hadits sebagai kitab berisi berita tentang sabda, perbuatan dan sikap Nabi Muhammad sebagai Rasul. Sabda dan perbuatan ini dikumpulkan para sahabat Nabi yang selanjutnya disampaikan kepada sahabat lain. Masa pembentukan Hadits tiada lain masa kerasulan Nabi Muhammad itu sendiri, ialah lebih kurang 23 tahun.

Masa pembentukan

Pada masa ini Hadits belum ditulis, dan hanya berada dalam benak atau hafalan para sahabat saja. perode ini disebut al wahyu wa at takwin. Periode ini dimulai sejak Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul hingga wafatnya (610M-632 M).

Pada saat ini Nabi Muhammad sempat melarang penulisan Hadits agar tidak tercampur dengan periwayatan Al Qur'an. Namun, setelah beberapa waktu, Nabi Muhammad SAW membolehkan penulisan Hadits dari beberapa orang sahabat yang mulia, seperti Abdullah bin Mas'ud, Abu Bakar, Umar, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, dan lainnya.

Masa penggalian

Masa ini dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 H atau 632 M. Pada masa ini Hadits belum ditulis ataupun dibukukan, kecuali yang dilakukan oleh beberapa sahabat seperti Abu Hurairah, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas'ud, dan lainnya. Seiring dengan perkembangan dakwah, mulailah bermunculan persoalan baru umat Islam yang mendorong para sahabat saling bertukar Hadits dan menggali dari sumber-sumber utamanya.

4 dari 7 halaman

Sejarah hadits

Masa penghimpunan

Masa ini ditandai dengan sikap para sahabat dan tabi'in yang mulai menolak menerima Hadits baru, seiring terjadinya tragedi perebutan kedudukan kekhalifahan yang bergeser ke bidang syari'at dan 'aqidah dengan munculnya Hadits palsu.

Pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz sekaligus sebagai salah seorang tabi'in memerintahkan penghimpunan Hadits. Masa ini terjadi pada abad 2 H, dan Hadits yang terhimpun belum dipisahkan mana yang merupakan Hadits marfu' dan mana yang mauquf dan mana yang maqthu'.

Masa pendiwanan dan penyusunan

Abad 3 H merupakan masa pendiwanan (pembukuan) dan penyusunan Hadits. Selanjutnya pada abad 4 H, usaha pembukuan Hadits terus dilanjutkan hingga dinyatakannya bahwa pada masa ini telah selesai melakukan pembinaan maghligai Hadits. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab Hadits seperti menghimpun yang terserakan atau menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab Hadits abad ke-4 Hijriyah.

5 dari 7 halaman

Jenis hadits berdasarkan keasliannya

Hadits Sahih

Hadits Sahih merupakan Hadits dengan tingkatan tertinggi penerimaannya. Sebuah Hadits diklasifikasikan sebagai sahih jika memenuhi kriteria:

- Sanadnya bersambung yang artinya diriwayatkan oleh para penutur/rawi yang adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.

- Pada saat menerima Hadits, masing-masing rawi telah cukup umur (baligh) dan beragama Islam.

- Matannya tidak bertentangan serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan Hadits.

Hadits Sahih terbagi menjadi dua yaitu: Sahih Lizatihi, yakni Hadits yang sahih dengan sendirinya tanpa diperkuat dengan keterangan lain dan Sahih Lighairihi, yakni Hadits yang sahihnya kerana diperkuat dengan keterangan lain.

Hadits Hasan

Hadits Hasan merupakan Hadits yang sanadnya bersambung, tetapi ada sedikit kelemahan pada rawi(-rawi)nya. Misalnya diriwayatkan oleh rawi yang adil namun tidak sempurna ingatannya. Namun matannya tidak syadz atau cacat.

Menurut Imam Tirmidzi, hadits Hasan adalah hadits yang tidak berisi informasi yang bohong, tidak bertentangan dengan hadits lain dan Al-Qur'an dan informasinya kabur, serta memiliki lebih dari satu Sanad.

Perbedaan hadits Shahih dan hasan terletak pada kedhabithannya. Jika hadits Shahih tingkat dhabithnya harus tinggi, maka hadits hasan tingkat kedhabithannya berada dibawahnya.

6 dari 7 halaman

Hadits Dhaif

Hadits Dhaif merupakan Hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa Hadits mauquf, maqthu’, mursal, mu’allaq, mudallas, munqathi’ atau mu’dlal), atau diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, atau mengandung kejanggalan atau cacat. Hadits ini adalah kategori Hadits yang tertolak dan tidak dapat dinyatakan kebenarannya berasal dari perkataan atau perbuatan Nabi.

Hadits Dhaif termasuk kategori Hadits lemah karena terputusnya rantai periwayatan (sanad) dan adanya kelemahan pada seorang atau beberapa orang penyampai riwayat (perawi) Hadits tersebut.

Terdapat berbagai tingkatan derajat Hadits lemah, mulai dari yang lemahnya ringan hingga berat. Di antara macam-macam tingkatan Hadits yang dikategorikan lemah, seperti:

Hadits Mursal

Hadits yang disebutkan oleh Tabi'in langsung dari Rasulullah tanpa menyebutkan siapa shahabat yang melihat atau mendengar langsung dari Rasul.

Hadits Mu'dhol

Hadits yang dalam sanadnya ada dua orang rawi atau lebih yang tidak dicantumkan secara berurut.

Hadits Munqath

Semua Hadits yang sanadnya tidak bersambung tanpa melihat letak dan keadaan putusnya sanad. Setiap Hadits Mu'dhal adalah Munqathi, namun tidak sebaliknya.

Hadits Mudallas

Seseorang yang meriwayatkan dari rawi fulan sementara Hadits tersebut tidak didengarnya langsung dari rawi fulan tersebut, namun ia tutupi hal ini sehingga terkesan seolah ia mendengarnya langsung dari rawi fulan.

Hadits Mu'an'an

Hadits yang dalam sanadnya menggunakan riwayat seseorang dari seseorang.

Hadits Mudhtharib

Hadits yang diriwayatkan melalui banyak jalur dan sama-sama kuat, masing-masingnya dengan lafal yang bertentangan (serta tidak bisa diambil jalan tengah).

Hadits Syadz

Hadits yang menyelisihi riwayat dari orang-orang yang tsiqah (tepercaya). Atau didefinisikan sebagai Hadits yang hanya diriwayatkan melalui satu jalur namun perawinya tersebut kurang tepercaya jika ia bersendiri dalam meriwayatkan Hadits.

Hadits Munkar

Hadits yang diriwayatkan oleh perawi kategori lemah yang menyelisihi periwayatan rawi-rawi yang tsiqah.

Hadits Matruk

Hadits yang di dalam sanadnya ada perawi yang tertuduh berdusta.

7 dari 7 halaman

Jenis hadits berdasarkan keasliannya

Hadis Maudlu’ merupakan hadis palsu yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Sebuah hadis dikatakan Hadis Maudlu’ jika hadis dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang dikenal sebagai pendusta.

Meski makna hadis palsu bisa baik, namun hadis ini bukanlah perkataan atau perbuatan Rasulullah. Berbeda dengan hadis dhaif yang bersifat lemah, hadis Maudlu’ sudah terbukti bukanlah hadis dari Rasulullah. Biasanya isi Hadis Maudlu’ bertentangan dengan ayat Al Quran atau hadis lain yang sahih.