Sukses

6 Fakta Varian Baru Virus Corona B117, Pahami Gejala dan Cara Menghindarinya

Liputan6.com, Jakarta Sudah satu tahun virus Corona Covid-19 singgah di Indonesia. Mutasinya sudah banyak terjadi, varian baru virus Corona B117 salah satunya. Virus Corona B117 pertama kali dilaporkan di Inggris pada Desember 2020 lalu.

Sampai akhirnya virus Corona B117 dilaporkan tiba di Indonesia pada 1 Maret 2021 yang menginfeksi dua pelaku perjalanan Internasional asal Karawang. Penelitian yang diterbitkan CDC, mengungkap tidak ada perbedaan gejala dari varian baru virus Corona B117 dengan virus corona awal. 

Menurut penuturan para ahli, varian baru virus Corona B117 menyertakan mutasi genetik di dalam protein “spike” virus. Hal ini yang membuatnya lebih cepat dan mudah menular daripada virus Corona Covid-19, tingkat keganasannya sama.

Untuk vaksin sendiri, EUA (Emergency Use Authorization) menyatakan vaksin Covid-19 tetap efektif untuk memberikan perlindungan terhadap mutasi varian baru virus Corona B117 tersebut. Meski demikian, konsistensi penerapan protokol kesehatan harus lebih ditingkatkan untuk meminimalisir paparan dan infeksinya.

Berikut Liputan6.com ulas fakta varian baru virus Corona B117 dari berbagai sumber, Sabtu (6/3/2021).

2 dari 7 halaman

Virus Corona B117 Dilaporkan di Inggris Desember 2020

Varian baru virus Corona B117 mulai dilaporkan di Inggris pada Desember 2020. Ada varian mutasi 20H/501Y.V2 atau B.1.351 di Afrika Selatan.

Mutasi lain dari virus Corona Covid-19 juga sudah banyak beredar, seperti P1 atau 20J/501Y.V3 dari Brazil, B.1429 dari California dan B.1526 dari New York. Mutasi ini sudahmenjadi strain virus dominan di wilayah London dan Inggris bagian tenggara.

Hasil mutasi virus Corona B117 di Inggris ini nama awalnya adalah VUI-202012/01. “VUI” adalah kepanjangan dari “Variant Under Investigation”, “202012” karena ditemukannya pada bulan 12 tahun 2020 dan “/01” karena ini laporan pertama dari jenis mutasinya.

3 dari 7 halaman

Virus Corona B117 Ditemukan di Indonesia 1 Maret 2021

Varian baru virus Corona B117 akhirnya ditemukan di Indonesia pada 1 Maret 2021. Virus ini mulai terdeteksi usai pemerintah mengecek sampel pelaku perjalanan Internasional pakai polymerase chain reaction (PCR).

Temuan varian baru virus Corona B117 ini berawal dari pemeriksaan terhadap 462 virus SARS-CoV-2 yang beredar di Tanah Air dalam beberapa bulan terakhir.

Dari hasil penelusuran, diketahui varian baru virus Corona B117 ini masuk ke Tanah Air lewat dua warga Karawang, Jawa Barat yang baru melakukan perjalanan dari Arab Saudi menggunakan maskapai penerbangan Qatar Airways.

Usai mengetahui hal tersebut, pemeritah Indonesia memutuskan memperketat kedatangan pelaku perjalanan dari luar negeri, terutama dari Inggris. Mengingat asal muasal varian baru virus Corona B117 merupakan hasil mutasi di Inggris pada Desember 2020 lalu.

4 dari 7 halaman

Virus Corona B117 Lebih Menular dan Ganas

Varian baru virus Corona B117 ditemukan 50-70 persen lebih menular daripada strain awal. Varian B117 menyertakan mutasi genetik di dalam protein “spike” virus.

Dampaknya, strain virus baru dalam mutasi B117 lebih cepat dan mudah menular di antara manusia, dengan tingkat keganasan sama seperti Covid-19. Hal ini yang membuat protokol kesehatan harus lebih ditingkatkan.

Dilansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tepat awal Januari 2021, ilmuwan dari Inggris melaporkan bahwa varian B117 ini cukup berbahaya.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Covid-19 Sinovac dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Kusnandi Rusmil menyatakan varian baru virus Corona B117 lebih cepat menular dari Covid-19.

"Dia itu bukan lebih ganas tapi dia lebih cepat menular, tapi keganasannya sama," kata Kusnandi di Gedung RSP Unpad, Kota Bandung, Rabu (3/3).

Saat ini peneliti di dunia termasuk Indonesia terus meneliti mutasi dan varian baru yang muncul guna mengetahui dampak dan solusi menghadapinya.

5 dari 7 halaman

Gejala Virus Corona B117

Sakit Kepala

Dalam beberapa kasus, virus Corona Covid-19 dapat menyebabkan seseorang mengalami sakit kepala. Hal ini berlaku pula untuk gejala varian baru virus Corona B117.

Namun, para peneliti masih mencari tahu apakah sakit kepala yang dialami pasien merupakan penyebab dari COVID-19 itu sendiri atau karena ada faktor kesehatan lain.

Kelelahan

Gejala yang ditemukan akibat infeksi varian baru virus Corona B117 adalah kelelahan. Kondisi kelelahan dapat dirasakan sebagai dampak dari zat sitokin.

Sitokin yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh akan bereaksi melawan infeksi virus. Hal inilah yang pada akhirnya akan menyebabkan kelelahan bagi penderita.

Nyeri Otot

Nyeri otot yang tidak biasa diduga dapat terjadi akibat gejala varian baru virus Corona B117. Nyeri otot disebabkan karena virus menyerang serat otot dan lapisan jaringan tubuh. 

Gejala Lainnya

Belakangan ini, beberapa peneliti menemukan laporan gejala COVID-19 baru. Gejala varian baru virus Corona B117 yang dimaksud berupa diare, ruam kulit, kehilangan nafsu makan, dan kebingungan.

Kendati begitu, peneliti masih memerlukan penelitian lebih lanjut soal gejala baru yang timbul akibat varian baru virus Corona B117.

6 dari 7 halaman

Risiko Komplikasi Virus Corona B117

Dokter Timothy Friel dari Departemen Kedokteran Pennsylvania di Amerika Serikat menyatakan bahwa mutasi varian baru virus Corona B117 menimbulkan komplikasi yang sama dengan virus corona orisinal.

Ia pun mengatakan, menurut penelitian yang diterbitkan oleh CDC, tidak ada perbedaan gejala dari varian baru virus Corona B117 dengan virus corona awal.

Vaksin Covid-19 yang sudah diberi izin EUA (Emergency Use Authorization) tetap dinyatakan efektif untuk memberikan perlindungan terhadap mutasi varian baru virus Corona B117.

7 dari 7 halaman

Cara Menghindari Paparan Virus Corona B117

Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia Riza Arief Putranto, PhD menjelaskan, guna mencegah paparan varian baru virus Corona B117, diharapkan masyarakat lebih konsisten menerapkan protokol kesehatan.

“Lakukan 5M yaitu memakai masker, upgrade masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, membatasi mobilitas, kemudian jaga kesehatan imun, berdoa, dan tidak perlu panik,” paparnya.

Mengenai upgrade masker yang disinggung Riza, dokter spesialis penyakit dalam RA Adaninggar mengatakan, upgrade masker merujuk pada rekomendasi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Di mulai dari masker didobel dengan bagian luar masker kain minimal 3 lapis dan bagian dalam masker medis sebagai tambahan filter.

“Efektivitas filtrasinya lebih dari 90 persen untuk aerosol,” ujarnya kepada Liputan6.com melalui pesan teks Rabu (3/3).

Agar terhindar dari infeksi varian baru virus Corona B117, pastikan penggunaan masker yang benar. Tutuplah hidung dan mulut dengan pengaplikasian yang pas di wajah. Tidak boleh ada jarak antara wajah dan masker.

Menurut dokter yang akrab disapa Ning itu, masker dapat digunakan di berbagai tempat termasuk:

1. Di semua tempat tertutup yang berventilasi buruk.

2. Di semua tempat berventilasi baik yang tidak memungkinkan jaga jarak.

3. Di semua lingkungan fasilitas kesehatan.

4. Di rumah bila sedang ada keluarga yang isolasi mandiri, ada tamu yang datang, digunakan sehari-hari pada pekerja risiko tinggi seperti tenaga kesehatan dan pekerja pelayanan publik.

5. Di dekat orang-orang rentan seperti lansia, orang dengan komorbid, dan ibu hamil.