Sukses

Profil Jozeph Paul Zhang, Seorang Apologetik Kristen yang Mengaku Nabi ke-26

Liputan6.com, Jakarta Jagat maya tengah dihebohkan dengan video viral dari YouTube dengan sosok Jozeph Paul Zhang yang mengaku sebagai Nabi ke-26. Atas kasus penistaan agama Islam, akhirnya ia dilaporkan ke Bareskrim Polri.

Seorang pria bernama Husin Shahab melaporkan Jozeph ke Bareskrim Polri dengan dugaan telah melakukan penistaan agama. Laporan tersebut pun telah teregistrasi dengan nomor LP/B/0253/IV/2021/BARESKRIM tertanggal 17 April 2021.

Pihak kepolisian merilis nama asli Jozeph Paul Zhang adalah Shindy Paul Soerjomoelyono. Berdasarkan informasi dari profil blog pribadinya, ia adalah seorang Apologetik Kristen yang aktif menulis topik Kekristenan dan Islam.

Berikut Liputan6.com ulas profil Jozeph Paul Zhang dari berbagai sumber, Senin (19/4/2021).

2 dari 7 halaman

Nama Asli Jozeph Paul Zhang adalah Shindy Paul Soerjomoelyono

Jozeph Paul Zhang adalah pria yang mengaku sebagai Nabi ke-26. Dia mengaku ingin meluruskan kesesatan ajaran Nabi ke-25. Pria bernama Jozeph Paul Zhang yang sedang menjadi sorotan publik karena telah menistakan agama Islam melalui akun YouTube-nya, ternyata itu bukan nama asli.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi saat dihubungi Liputan6.com, Senin (19/4/2021) menjelaskan Paul Zhang hanya nama akun YouTube-nya. Jenderal bintang satu ini menyebutnya Shindy Paul.

"Sesuai data perlintasan, namanya Shindy Paul Soerjomoelyono," ujarnya.

3 dari 7 halaman

Jozeph Paul Zhang adalah Seorang Apologetik

Jozeph Paul Zhang aktif di Blogger sejak tahun 2009. Melalui informasi yang dihimpun Liputan6.com, Senin (19/4/2021) dari profil di blog pribadinya, Jozeph adalah seorang Apologetik Kristen yang aktif menulis tentang Kristologi dan Apologetik.

Dia pun mengaku sebagai Founder of The FIRM Foundation (Indonesia) and Hagios Apologetic Centre (Europe). Dijelaskan lebih rinci, peranan Jozeph Paul Zhang adalah memberitakan Injil, mengajar dan memuridkan melalui artikel, buku-buku, maupun tulisan di media sosial dan seminar-seminar Menjawab Iman Kristen.

Dalam Jurnal Ilmiah Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung yang terbit 2 Desember 2020 tentang Konsep Apologetika sebagai Panggilan Orang Percaya oleh Guntur Hari Mukti dijelaskan apologetik secara khusus dalam Alkitab, penggunaan kata ‘apologia’ yang berarti berbicara untuk mempertahankan atau memberikan jawaban.

Lebih lanjut dijelaskan, Powell melihat Apologetika seperti sebuah “supermarket rohani” yang menawarkan “agama atau kepercayaan” sehingga yang membeli harus diyakinkan oleh penjualnya, sehingga penjual pun harus yakin dengan barang jualannya. Karena itu, apologetika bukan saja bermanfaat bagi “orang lain” namun juga bagi diri sendiri.

4 dari 7 halaman

Jozeph Paul Zhang Telah Membaptis Ratusan Orang

Menurut pengakuan yang didapat Liputan6.com Senin (19/4/2021) dari blog pribadinya, ia telah membaptis ratusan orang yang beragama Islam. Ia menyadarkan orang-orang agar mau dibaptis melalui pemberitaan Injil yang dilakukan baik lisan maupun tulisan.

Jozeph Paul Zhang pun mengaku telah melakukannya di Indonesia dan Benua Eropa. Hal ini diperkuat pernyataan Kabareskrim, Komisaris Jendral Agus Andrianto bahwa Jozeph tidak berada di Indonesia sejak Januari 2018. Di lokasi blog pribadinya tercantum lokasinya di Bremen, Jerman.

5 dari 7 halaman

Jozeph Paul Zhang Aktif Menggugah Konten Kontroversial di YouTube

Jozeph Paul Zhang aktif menggugah konten kontroversial di YouTube. Kontennya membahas kekristenan dan menyentil ajaran Islam. Ada video dengan judul Puasa Lalim Islam, Nabi ke-25 Pasti Masuk Neraka, dan NKRI: Negara Khilafah Republik Indonistan.

Kabareskrim Mabes Polri Komjen Agus Andrianto di Jakarta menjelaskan Jozeph Paul Zhang mengetahui banyak warga Indonesia yang gampang marah sehingga membuat konten video yang memancing emosi masyarakat.

Salah satu konten kontrovesialnya dan tengah viral adalah saat ia mengaku sebagai Nabi ke-26. Dalam video berjudul “Puasa Lalim Islam” ia mengaku tak nyaman dengan puasa yang dijalankan umat Islam di bulan Ramadan. Terlebih saat Idulfitri, suara tabuh bedug masjid ia sebut seperti tabuhan untuk monyet.

“Apalagi kalau deket-deket Idulfitri. Dung dung breng, dung dung breng. Sarimin pergi ke pasar. Dung dung breng Allah bubar. Wah itu tuh udah paling mengerikan. Itu horor banget,” jelasnya dihimpun Liputan6.com dari Channel YouTube-nya, Senin (19/4/2021).

6 dari 7 halaman

Jozeph Paul Zhang Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Dia pun menantang siapa saja yang berani melaporkan dirinya terkait dengan penistaan agama dan akan diberi uang. Ia mengaku sebagai Nabi ke-26, akan meluruskan kesesatan nabi ke-25, dan kecabulannya yang maha cabulullah.

“Gua kasih sayembara. Gua udah bikin video. Saya udah bikin video tantangan. Yang bisa laporin gua ke polisi gua kasih uang yang bisa laporin gua ke polisi penistaan agama, nih gua nih nabi ke-26, Jozeph Paul Zhang. Meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulannya yang maha cabulullah,” ujarnya.

Sampai akhirnya seorang pria bernama Husin Shahab melaporkan Jozeph ke Bareskrim Polri dengan dugaan telah melakukaan penistaan agama. Laporan tersebut pun telah teregister dengan nomor LP/B/0253/IV/2021/BARESKRIM tertanggal 17 April 2021.

7 dari 7 halaman

Jozeph Paul Zhang Menuliskan Al-Qur’an adalah Kitab Amburadul

Jozeph Paul Zhang aktif menulis di blog sejak Maret 2009 tentang Kristen dan Islam. Ada dua konten artikel terbaru yang berkaitan dengan Islam. Tanggal 15 Juni 2019, Jozeph menggugah artikel berjudul Alquran Belanda Edisi Kairo 1924. Artikel terakhir, yakni pada 4 November 2019 dengan judul Allah Arab, Nabi Palsu dan Imam Mahdi akan dilempar ke Neraka.

Dalam artikel berjudul Alquran Belanda Edisi Kairo 1924, ia menjelaskan Al-Qur’an adalah kitab amburadul beda versi. Ia menegaskan bahwa Muhammad tidak bisa baca tulis. Ia hanya meracau yang kemudian dianggap wahyu Jibril. Lalu banyak orang mencatatnya, baik di Pelana Onta, tulang belulang, lembaran kulit bekas dan sebagainya atau dihafalkan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, “Para pengikutnya ada yang memulai mengkoleksinya. Terjadilah Mushaf-mushaf yang berbeda saat Muhammad mati. Ada Mushaf Hafsah, Musaf Fatimah, Musaf Uthman dan lainnya, belum lagi para penghafal ayat ada yang masih hidup dan mati karena perang menghafal ayat yang berbeda-beda. Alkisah Uthman meminjam salinan yang ada pada Hafsah, dan semua Mushaf yang ada.”