Sukses

Transportasi Cerdas, Kunci Kemajuan Pariwisata Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Pariwisata termasuk sektor potensial yang dimiliki Indonesia. Terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai terpanjang ketiga di dunia serta kekayaan alam dan budaya yang beragam menjadikan Indonesia sorotan dunia dalam hal pariwisata.

Salah satu faktor yang menentukan kemajuan pariwisata adalah transportasi. Industri transportasi merupakan salah satu komponen terpenting dari infrastruktur pariwisata. Dengan transportasi memadahi, sebuah tempat wisata bisa mudah dijangkau dan mengundang banyak pengunjung.

Untuk mengembangkan suatu tempat daya tarik wisata, harus ada moda transportasi yang baik, efisien, dan aman. Dalam konteks ini, Indonesia memerlukan sistem transportasi yang terintegrasi. Pariwisata dan transportasi merupakan satu kesatuan yang tak boleh diabaikan.

"Urusan transportasi dan tourism itu menjadi urusan yang satu. Karena memang transportasi merupakan tulang punggung dari pariwisata. Begitu melekatnya urusan transportasi dengan tourism sehingga urusan ini harus ditangani dengan satu sektor tertentu." ujar William P. Sabandar selaku presiden dari Intelligent Transport System (ITS) Indonesia dalam webinar What A Wonderful Indonesia: Integrating Intelligent Transport and Tourism Rabu (30/6/2021).

2 dari 5 halaman

Pentingnya transportasi dalam pariwisata

Pentingnya transportasi dalam dunia pariwisata ini menjadi perhatian Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf). Saat ini, Kemparekraf sedang berupaya mengintegrasikan sarana transportasi cerdas dan pariwisata untuk mengembangkan infrastruktur transportasi pariwisata di Indonesia.

Sandiaga Salahuddin Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memaparkan bahwa dalam dalam dua dasawarsa terakhir sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sudah menjadi penggerak andalan ekonomi Indonesia.

"Ini merupaakan satu langkah strategis di tengah pandemi bahwa dotengah pandemi ini justru kita harus berbenah. Kedepannya sektor ini dengan 34 juta masyarakat yang menggantungkan kehidupannya, akan menjadi sektor yang mengawali kebangkitan pasca pandemi." ujar Sandiaga dalam webinar Rabu(30/6/2021).

Saat ini Kemparekraf sedang mengembangkan lima destinasi super prioritas yang teridiri dari Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Infrastuktur yang juga termasuk transportasi terus digenjot pembangunannya. Sandiaga menuturkan pentingnya integrasi transportasi dalam dunia pariwisata.

"Kalau kita tidak integrated kita nggak akan menciptakan destinasi yang berkualitas dan pengalaman yang memorable, unforggetable, magical, dan nggak akan dapat keberlanjutan lingkungannya." tambah Sandiaga.

Hal ini juga seia dengan pernyataan William P. Sabandar. Menurutnya, di banyak negara, urusan transportasi dan pariwisata merupakan hal yang terintegrasi. Pariwisata, sebagai kegiatan ekonomi, bergantung pada transportasi untuk membawa wisatawan ke tujuan. Transportasi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

"Transportasi adalah elemen utama dalam mendukung keberhasilan pariwisata. Tanpa transportasi, pariwisata akan sulit berkembang." ujarnya.

3 dari 5 halaman

Infrastuktur transportasi harus cerdas

Pengembangan infrastruktur transportasi bukan sembarang transportasi. Dalam pariwisata, penting juga menggunakan transportasi cerdas atau intelligent transportation. Hal inilah yang menjadi fokus bagi ITS untuk mengembangkan integrasi transportasi cerdas untuk pariwisata atau Integrating Intelligent Transport and Tourism.

"Intelegent transport adalah suatu sistem yang mendorong hadirnya smart mobliity. Smart mobility itu berkaitan dengan sistem transportasi yang efisien, seamless, safe, dan impactful." papar William P. Sabandar.

Intelegent transport harus menjadi bagian yang signifikan dalam membawa kembali kebangkitan pariwisata indonesia. ITS diharapkan mampu membangun sistem trasportasi terintegrasi untuk sektor pariwisata yang dapat mendorong pemulihan sektor pariwisata dalam mendukung peningkatan ekonomi baik secara umum maupun lokal di daerah destinasi.

Bagi pariwisata, intelligent transport system mampu merencanakan mobilitas mulai dari tahapan sebelum keberangkayan, saat berada di daerah tujuan seperti di bandara, pelabuhan, atau stasiun, dan hingga mobilitas selama berada di kota tujuan.

4 dari 5 halaman

Masyarakat kini lebih mandiri

Menurut akademisi dan juga Head of Research ITS Indonesia, Yossyafra, M.Eng.Sc., Ph.D , wisatawan kini cenderung menjadi free independent tourist. Ini artinya wisatwan memilih merencanakan kegiatan wisatanya secara mandiri tanpa bantuan agensi, melainkan dengan bantuan informasi terbuka yang bisa diakses sendiri.

Misalnya, seorang turis yang ingin pergi ke Borobudur, ia merencanakan perjalanannya secara mandiri dengan memesan tiket pesawat, mobil, hingga penginapan dengan bantuan aplikasi di ponselnya. Inilah yang menurut Yossyafra, Intelligent Transport System (ITS) berperan penting dalam dunia pariwisata.

"Tren free independent tourist ini membuat turis bisa memilih transportasi ke destinasi dengan bantuan informasi pariwisata atau informasi terbuka lainnya." ujarnya.

Konep ITS adalah sistem transportasi yang menerapkan teknologi informasi, pemrosesan data, komunikasi, sensor ke kendaraan, infrastruktur, penggunaan transportasi untuk meningkatkan efektivitas, kinerja lingkungan, keamanan, ketahanan, dan efisiensi. Tujuan ITS adalah mengurangi kepadatan lalu lintas, mengurangi waktu perjalanan, meningkatkan keselamatan, meningkatkan kualitas lingkungan, dan peningkatan produktivitas ekonomi.

Manfaat ITS bagi masyarakat adalah mengurangi ketidakpastian perjalanan bagi wisatawan, meningkatkan keamanan perjalanan orang dan barang, meningkatkan efisiensi kerja pelayanan untuk operator perjalanan, dan meningkatkan efisiensi bagi pengguna moda transportasi.

 

5 dari 5 halaman

PR besar bagi Indonesia

Yossyafra mengungkapkan bahwa Kunci penting dalam kesuksesan industri pariwisata adalah infrastruktur. Data yang dipaparkan Yossyafra menunjukkan bahwa Indeks daya saing perjalanan dan pariwisata Indonesia pada tahun 2008 sampai 2019 naik dari urutan 80 menjadi 40. Ini menunjukkan bahwa industri pariwisata di Indonesia makin berbenah dan dikenal dunia.

Dalam data tersebut, Indonesia unggul dibandingkan negara ASEAN lainnya dalam hal sumber daya budaya (Cultural Resources). Selain itu, Indonesia juga unggul dalam soal daya saing harga (price competitivenes), prioritas perjalanan & pariwisata (prioritization of travel & tourism), dan sumber daya alam (natural resources).

Namun, Indonesia juga masih punya kelemahan dalam daya saing perjalanan wisata. Kelemahan ini bisa dilihat dari ketahanan lingkungan (environmental sustainability) dan kesehatan dan kebersihan (health & hygenie) yang termasuk yang terburuk. Selain itu, Indonesia juga masih rendah dalam pelayanan infrastruktur pariwisata, keamanan dan keselamatan, serta kesiapan teknologi.

Di Indonesia untuk infrastruktur transportasi masih kalah dengan Singapura dan Malaysia. Untuk infrastruktur udara misalnya, Indonesia berada di peringkat 38 sementara Singapura berada di tingkat 7 dan Malaysia di 25.

"Kalau kita mau mengangkat indeks daya saing perjalanan dan pariwisata Indonesia, kita harus mengangkat kesiapan dari ICT (TIK) dan mengangkat infrastruktur yang mendukung perjalanan pelaku wisata, nah ini tantangan bagi Indonesia." ujar Yossyafra.

Serangkaian integrasi perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing pariwisata di Indonesia. Integrasi ini meliputi regulasi dan kelembagaan dalam pengelolaan data, aplikasi dengan provider dan stakeholder, jaringan antar moda yang banyak, serta peningkatan kapasitas pada sumber daya manusia. Pembangunan infrastruktur transportasi cerdas inilah yang kini menjadi tantangan besar bagi Indonesia.