Sukses

Sumpah Pemuda adalah Ikrar Persatuan, Simak Isi dan Sejarahnya

Liputan6.com, Jakarta Memahami Sumpah Pemuda adalah bentuk kesepakatan para pemuda dan pemudi Indonesia yang terkumpul dalam sebuah organisasi atau perhimpunan. Dalam buku berjudul Perhimpunan Indonesia sampai dengan Lahirnya Sumpah Pemuda yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sumpah Pemuda adalah lahir pada momen Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928.

Sumpah Pemuda adalah ikrar persatuan pemuda dan pemudi Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dalam modul berjudul Sejarah Indonesia Kelas XI KD 3,4 dan 4,4 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kongres yang menjadi tonggak lahirnya Sumpah Pemuda adalah dibentuk untuk menyatukan organisasi yang pada saat itu terpecah belah.

“Satu hal yang unik adalah istilah Sumpah Pemuda tidak muncul pada hasil kongres di tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 tersebut. Istilah ini justru muncul setelah kongres itu selesai,” dijelaskan.

Isi Sumpah Pemuda adalah terdiri dari tiga pikiran pokok penting, berwujud persatuan. Mengaku bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda adalah asas bersama pada perkumpulan penting saat membahas Kemerdekaan Indonesia. Dijelaskan, Sumpah Pemuda adalah selalu disiarkan di semua surat kabar berbahasa Indonesia dan selalu dibacakan pada rapat perkumpulan.

Bagaimana proses kongres itu menciptakan Sumpah Pemuda? Berikut Liputan6.com ulas lebih mendalam tentang Sumpah Pemuda, Senin (24/1/2022).

2 dari 4 halaman

Sejarah Sumpah Pemuda

Sejarah Sumpah Pemuda dalam modul berjudul Sejarah Indonesia Kelas XI KD 3,4 dan 4,4 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dijelaskan terbentuk pada dua momentum kongres. Begini sejarahnya:

Kongres Sumpah Pemuda 1

Kongres Pemuda yang pertama diadakan pada tanggal 30 April hingga 2 Mei 1928. Kongres ini dihadiri oleh perwakilan-perwakilan dari Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatra Bond Jong Ambon, Sekar Rukun Jong Batak dan para Pemuda Theosofi.

Kongres pertama Sumpah Pemuda adalah mengedepankan tema pentingnya persatuan dan kesatuan para pemuda yang kemudian berdiri dalam satu payung untuk mencapai Indonesia merdeka.

Sejumlah tokoh yang menjadi pembicara:

- Sumarto,

- M. Tabrani,

- Muh. Yamin,

- Bahder Johan,

- dan Pinontoan.

Meski ada kesepakatan untuk menerima dan mengakui cita-cita persatuan Indonesia, badan untuk mewadahi semua organisasi pemuda saat itu masih gagal terbentuk. Ini karena kesalahpahaman serta beda pendapat antara anggota kongres.

Keputusan penting hasil dari Kongres Pemuda 1:

1. Semua perkumpulan pemuda harus bersatu dalam organisasi.

2. Perlu segera diadakannya Kongres Pemuda kedua.

Kongres Sumpah Pemuda 2

Ada tiga rapat yang dihadiri oleh para pemuda di Kongres Pemuda Kedua. Rapat pertama, bertempat di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), hari Sabtu, 27 Oktober 1928. Rapat dibuka oleh Ketua PPPI, Soegondo Djojopoespito.

Dalam sambutan kongres Sumpah Pemuda adalah Soegondo mengatakan sangat berharap kongres bisa memperkuat semangat persatuan yang ada di dalam hati para pemuda peserta kongres, dan seluruh Indonesia nantinya.

“Ia melanjutkan dengan menjelaskan lima faktor yang bisa membuat persatuan Indonesia menjadi lebih kuat, yakni sejarah, Bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan yang kuat,” dijelaskan.

Rapat kedua, bertempat di Gedung Oost-Java Bioscoop di tanggal 28 Oktober 1928. Rapat kedua ini banyak membahas seputar pendidikan. Di hari kedua ini yang jadi pembicara adalah Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro.

Kedua pembicara ini memiliki pendapat bahwa anak-anak harus mendapat pendidikan kebangsaan. Selain itu mereka mengutamakan pentingnya keseimbangan antara pendidikan sekolah dan di rumah.

Rapat ketiga, sekaligus menutup kongres Sumpah Pemuda adalah mengambil tempat di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106. Di sini Sunario yang menjadi pembicara memberikan penjelasan akan pentingnya nasionalisme dan demokrasi mengiringi gerakan kepanduan.

Ramelan yang ikut menjadi pembicara di rapat ketiga mengatakan gerakan kepanduan tidak boleh dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan yang ditanamkan sejak dini pada anak-anak bisa mendidik mereka untuk menjadi disiplin dan mandiri. Kedua hal tersebut sangatlah dibutuhkan dalam perjuangan menuju kemerdekaan.

3 dari 4 halaman

Isi Sumpah Pemuda

Isi Pertama

“Pertama: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertoempah darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia).”

Isi Kedua

“Kedoea: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putran dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia).”

Isi Ketiga

“Ketiga: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).”

4 dari 4 halaman

Panitia Kongres Sumpah Pemuda

Siapa saja yang terlibat menjadi panitia kongres Sumpah Pemuda? Masih melansir modul pembelajaran yang sama, ini panitia kongres Sumpah Pemuda:

1. Ketua kongres Sumpah Pemuda adalah Soegondo Djojopoespito (PPPI).

2. Wakil ketua kongres Sumpah Pemuda adalah R.M. Djoko Marsaid (Jong Java).

3. Sekretaris kongres Sumpah Pemuda adalah Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond).

4. Bendahara kongres Sumpah Pemuda adalah Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond).

5. Pembantu I kongres Sumpah Pemuda adalah Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond).

6. Pembantu II kongres Sumpah Pemuda adalah R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)

7. Pembantu III kongres Sumpah Pemuda adalah Senduk (Jong Celebes)

8. Pembantu IV kongres Sumpah Pemuda adalah Johanes Leimena (yong Ambon)

9. Pembantu V kongres Sumpah Pemuda adalah Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)

10. Peserta kongres Sumpah Pemuda:

- Abdul Muthalib Sangadji,

- Purnama Wulan,

- Abdul Rachman,

- Raden Soeharto,

- Abu Hanifah,

- Raden Soekamso,

- Adnan Kapau Gani,

- Ramelan,

- Amir (Dienaren van Indie),

- Saerun (Keng Po),

- Anta Permana,

- Sahardjo,

- Anwari,

- Sarbini,

- Arnold Manonutu,

- Sarmidi

- Mangunsarkoro,

- Assaat,

- Sartono,

- Bahder Djohan,

- S.M. Kartosoewirjo,

- Dali,

- Setiawan,

- Darsa,

- Sigit (Indonesische Studieclub),

- Dien Pantouw,

- Siti Sundari,

- Djuanda,

- Sjahpuddin Latif,

- Dr.Pijper,

- Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken),

- Emma Puradiredja,

- Soejono Djoenoed Poeponegoro,

- Halim, R.M. Djoko Marsaid,

- Hamami,

- Soekamto,

- Jo Tumbuhan,

- Soekmono,

- Joesoepadi,

- Soekowati (Volksraad),

- Jos Masdani,

- Soemanang,

- Kadir,

- Soemarto,

- Karto Menggolo,

- Soenario (PAPI & INPO),

- Kasman Singodimedjo,

- Soerjadi,

- Koentjoro Poerbopranoto,

- Soewadji Prawirohardjo,

- Martakusuma,

- Soewirjo,

- Masmoen Rasid,

- Soeworo,

- Mohammad Ali Hanafiah,

- Suhara,

- Mohammad Nazif,

- Sujono (Volksraad),

- Mohammad Roem,

- Sulaeman,

- Mohammad Tabrani,

- Suwarni,

- Mohammad Tamzil,

- Tjahija,

- Muhidin (Pasundan),

- Van der Plaas (Pemerintah Belanda),

- Mukarno,

- Wilopo,

- Muwardi,

- Wage Rudolf Soepratman,

- Nona Tumbel.