Sukses

Nusantara adalah Sebutan Bagi Seluruh Wilayah Kepulauan Indonesia, Ini Penjelasannya

Liputan6.com, Jakarta Nusantara adalah sebutan atau nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Sedangkan secara umum, Nusantara adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kepulauan Indonesia yang membentang dari ujung Sumatera hingga Papua.

Dihimpun dari beberapa sumber, istilah Nusantara pertama kali tercatat dalam literatur Jawa pertengahan di abad ke-12 sampai 16 untuk menggambarkan suatu negara yang mengadopsi konsep dari Kerajaan Majapahit. Secara bentuk kata, istilah Nusantara diambil dari bahasa Jawa kuno. Nusa berarti "pulau" dan "antara" berarti "lain" atau bisa diartikan sebagai "seberang".

Sementara apabila dilihat dari sejarahnya, istilah Nusantara tidak merujuk pada wilayah Kepulauan Indonesia saat ini saja, tetapi mencakup daerah di luar Majapahit yang perlu ditaklukkan, termasuk Malaysia dan Singapura.

Berikut ini ulasan mengenai sejarah, perkembangan istilah Nusantara, dan penggunaannya untuk Ibu Kota baru Indonesia, yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (26/1/2022).

2 dari 4 halaman

Sejarah Nusantara

Sebutan Nusantara pertama kali digunakan pada masa Kerajaan Majapahit, atau sekitar abad ke-14. Bukti bahwa penggunaan istilah Nusantara lahir pada masa Majapahit dapat dilihat dari isi Sumpah Palapa, yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada pada 1336. Dalam sumpahnya, Gajah Mada bersikeras tidak akan menikmati kesenangan sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Sumpah itu diucapkan saat pengangkatannya menjadi Patih Amangkubumi Majapahit.

Sumpah Palapa berbunyi, "Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa." Artinya, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikian saya (baru akan) melepaskan puasa."

Kala itu, istilah Nusantara digunakan untuk menyebut daerah di luar Majapahit yang perlu ditaklukkan. Jadi, pada masa Majapahit, istilah Nusantara dipahami sebagai pulau-pulau yang berada di luar pusat pemerintahannya yang berada di Jawa, tepatnya di Mojokerto, Jawa Timur. Dapat dikatakan bahwa menurut Gajah Mada, sebagian Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur) justru tidak termasuk dalam istilah Nusantara. Hal ini karena kerajaan-kerajaan di tanah Jawa sudah berada langsung di bawah pemerintahan Majapahit.

Kendati demikian, para sejarawan meyakini bahwa konsep kesatuan Nusantara sebenarnya dicetuskan oleh Kertanegara, raja terakhir Singasari. Ketika berkuasa, Kertanegara mencetuskan konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, yang merupakan istilah untuk menyebut kepulauan Asia Tenggara. Kertanegara membayangkan penyatuan kerajaan dan pemerintahan maritim Asia Tenggara di bawah Kerajaan Singasari. Dalam bahasa Sanskerta, dwipantara berarti kepulauan antara, yang maknanya sama persis dengan Nusantara.

Setelah majapahit runtuh pada abad ke-15, istilah Nusantara sempat terlupakan. Barulah pada awal abad ke-20, istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa yang juga merupakan tokoh pendidikan nasional. Tujuannya ialah sebagai salah satu nama alternatif untuk meneruskan nama wilayah Hindia Belanda sebagai negara merdeka yang saat itu belum terwujud.

Saat penggunaan nama Indonesia telah disetujui untuk digunakan, kata nusantara kemudian terus dipakai sebagai sinonim dari kepulauan Indonesia. Pemahaman tersebut yang hingga kini masih digunakan, termasuk dalam KBBI.

Nusantara ini juga digunakan untuk menggambarkan kesatuan pulau geografi-antropologi. Itu karena adanya perkembangan kepentingan politik antara Benua Asia dan Australia, termasuk di antaranya Semenanjung Melayu, kecuali Filipina.

3 dari 4 halaman

Perkembangan Istilah Nusantara

Dikutip dari buku Menggenggam Nusantara Raya karya Abdurrahman Misno, dkk, akar nama dan istilah Nusantara terus mengalami perkembangan.

1. Sudah ada sejak kerajaan Majapahit

Kata Nusantara sudah digunakan sejak era Majapahit pada abad 13-15 yang dikenal sebagai penguasa adidaya pada masanya. Kekuasaan pada era Majapahit dibagi menjadi tiga dengan konsep Raja-Dewa yaitu:

a. Negara agung: daerah di sekeliling ibu kota tempat raja memerintah.

b. Mancanegara: daerah-daerah di Pulau Jawa dan sekitar yang budayanya mirip dengan Negara Agung, tetapi sudah berada di daerah perbatasan.

c. Nusantara yang berarti pulau lain di luar Jawa. Nusantara merupakan daerah di luar pengaruh budaya Jawa namun masih diklaim sebagai daerah taklukan: penguasa harus membayar upeti.

2. Ada istilah yang mirip Nusantara

Istilah yang mirip dengan kata Nusantara adalah Dwipantara yang disebutkan oleh Raja Singhasari tahun 1275. Istilah lengkapnya yaitu Cakrawala Mandala Dwipantara. Dwipantara adalah kata dalam bahasa Sansekerta untuk kepulauan antara. Kata ini memiliki makna yang sama persis dengan Nusantara, karena dwipa adalah sinonim yang berarti pulau.

3. Kembali diperkenalkan Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara mengusulkan nama Nusantara sebagai alternatif nama untuk negara yang akan dibentuk setelah kekuasaan Hindia Belanda. Walaupun begitu istilah Nusantara tidak dijadikan nama resmi, istilah ini dipakai sebagai sinonim untuk Negara Republik Indonesia. Nusantara dipakai untuk pengertian antropo-geografik maupun politik, misalnya di Indonesia dikenal dengan istilah Wawasan Nusantara.

4. Nusantara dalam perkembangan politik

Nusantara dipakai untuk perkembangan politik yang menggambarkan kesatuan geografi dan antropologi kepulauan yang terletak di antara Benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya.

4 dari 4 halaman

Nusantara Digunakan Sebagai Nama Ibu Kota Baru Indonesia

Nusantara jadi perbincangan setelah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan bahwa Ibu Kota Baru Indonesia di Kalimantan Timur akan diberi nama Nusantara. Nama Nusantara dideskripsikan sebagai konseptualisasi atas wilayah geografi Indonesia dengan pulau-pulau yang disatukan oleh lautan.

"Terbersit di dalamnya pengakuan kemajemukan geografi yang disertai dengan kemajemukan budaya. Maka Nusantara adalah konsep kesatuan yang mengakomodasi kekayaan, kemajemukan Indonesia," ujar Suharso dalam Sidang Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (18/1/2022), dikutip dari kanal News Liputan6.com.

Suharso menambahkan, Nusantara akan dibangun dengan visi menjadi kota berkelanjutan dunia. Kota ini juga akan menjadi motor ekonomi di Tanah Air pada masa depan. Selain itu, Nusantara menjadi simbol identitas nasional yang merepresentasikan keberagaman bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan asas antara lain yaitu keadilan, kesetaraan, keberlanjutan, kebhinekatunggalikaan yang telah disepakati bersama.