Sukses

Makna Kue Keranjang saat Tahun Baru Imlek, Begini Legenda dan Asal Usulnya

Liputan6.com, Jakarta Kue Keranjang merupakan makanan wajib saat perayaan Tahun Baru Imlek. Banyak kuliner khas Imlek memiliki filosofis dan simbolisme tersendiri, salah satunya adalah Kue Keranjang. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa kue satu ini bisa membawa keberuntungan.

Biasanya Kue Keranjang dijadikan sesaji saat upacara sembahyang di Tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini baru boleh dimakan sampai perayaan Cap Go Meh. Kue Keranjang juga sering dibagikan pada sanak saudara dan tetangga saat Imlek.

Camilan manis ini memiliki tekstur lengket yang mirip dengan dodol. Kue Keranjang juga kerap disebut sebagai Dodol Cina, Dodol Tionghoa, atau Kue Bakul. Ada banyak varietas Kue Keranjang, namun semuanya berbahan dasa beras ketan yang ditumbuk atau digiling.

Kue Keranjang memiliki makna filosofis yang dikaitkan dengan keberuntungan. Ia juga sarat dengan kisah sejarah dan legenda dari negeri Tiongkok. Kue Keranjang memang dikaitkan dengan beberapa legenda. Berikut makna Kue Keranjang dalam perayaan Imlek, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa(1/2/2022).

2 dari 6 halaman

Mengenal Kue Keranjang

Kue Keranjang atau di Tiongkok disebut Nian Gao merupakan kue beras manis yang terbuat dari tepung beras ketan dan gula. Kue Keranjang adalah makanan penutup yang populer dimakan selama Tahun Baru Imlek. Kue ini juga disebut dengan nama dodol Cina atau Kue Bakul.

Kue Keranjang secara tradisional dibuat dari pasta tepung beras ketan, air dan gula, dikukus selama berjam-jam sampai karamel menjadi massa berwarna coklat tua. Hasilnya adalah kue beras padat dan lengket yang menyerupai balok.

Di Indonesia, Nian Gao disebut sebagai Kue Keranjang jarena ia dicetak dalam wadah berbentuk keranjang. Kue Keranjang memiliki tekstur lengket berwarna cokelat kemerahan dengan rasa yang manis. Kue Keranjang merupakan kue wajib selama perayaan Tahun Baru Imlek.

Setiap Tahun Baru Imlek, Keluarga Tionghoa akan membeli banyak Kue Keranjang. Sebagian besar diberikan kepada teman, kerabat, tetangga, bos, kolega — siapa pun dan semua orang dalam hidup mereka. Memberikan Kue Keranjang dimaksudkan untuk memanjakan orang-orang yang dikasihi.

3 dari 6 halaman

Makna Kue Keranjang

Melansir Chinahighlights, Kue Keranjang memiliki sebutan asli Nian Gao (年糕) dalam bahasa Cina. Karakter Nian 年 berarti tahun, sedangkan Gao 糕 berarti kue. Gao 糕 juga memiliki pengucapan yang sama dengan 高 (/gao/) yang berarti 'tinggi'.

Jadi, pengucapan nian gao terdengar seperti 'tahun tinggi' (年高). Nian Gao adalah homonim untuk "tahun yang lebih tinggi" yang berarti kehidupan yang lebih baik dan keberuntungan di tahun mendatang.

Untuk orang tua, Kue Keranjang mengungkapkan keinginan untuk panjang umur. Bagi kaum muda, ia mengungkapkan keinginan untuk promosi dan penghasilan tinggi. Untuk anak-anak, Kue Keranjang mengungkapkan keinginan untuk tumbuh dewasa dengan baik.

Kue keranjang meruapakan harapan agar kehidupan selalu beruntung sepanjang tahun. Makan Kue Keranjang selama periode Tahun Baru Imlek dianggap mendatangkan sebuah keberuntungan.

Tekstur kue yang lengket juga melambangkan kerekatan dalam keluarga. Saat Tahun Baru Imlek keluarga akan berkumpul bersama merayakannya. Kue keranjang melambangkan agar keluarga yang merayakan Imlek dapat terus bersatu, rukun dan bertekad bulat menghadapi tahun baru.

4 dari 6 halaman

Legenda Kue Keranjang: tutup mulut untuk Dewa Dapur

Melansir Chinahighlights, Kue Keranjang diyakini telah dibuat sebagai persembahan licik kepada Dewa Dapur, yang diyakini bersemayam di setiap rumah. Pada akhir setiap tahun, cerita rakyat mengatakan, Dewa Dapur membuat "laporan tahunan" kepada Kaisar Giok sang Kaisar Langit.

Untuk mencegahnya menjelek-jelekkan rumah mereka, orang-orang menawarkan Kue Keranjang yang lengket untuk menutup mulut Dewa Dapur. Nian gao dipercaya membantu menjaga bibir Dewa Dapur agar tidak memberikan laporan negatif tentang keluarga kepada Kaisar Giok sebelum tahun baru. Oleh karena itu, Kue Keranjang disiapkan untuk persembahan sebelum Tahun Baru Imlek. Orang-orang juga mempersembahkan Kue Keranjang kepada Dewa Dapur untuk berdoa memohon keberuntungan di tahun mendatang.

5 dari 6 halaman

Legenda Kue Keranjang: amanah Wu Zixu

Kue Keranjang memiliki legenda lain tentang asal-usulnya, sekitar 2.500 tahun yang lalu. Legenda mengatakan bahwa, setelah kematian Wu Zixu, seorang jenderal dan politisi kerajaan Wu pada Periode Musim Semi dan Gugur (771–476 SM), raja Yue, Goujian, menyerang ibu kota Wu.

Tentara dan warga Wu terjebak di kota dan tidak ada makanan. Banyak orang mati kelaparan selama pengepungan. Pada saat itu, seseorang memikirkan kata-kata bermanfaat Wu Zixu: "Jika negara dalam kesulitan dan orang-orang membutuhkan makanan, pergi dan gali tiga kaki di bawah tembok kota dan dapatkan makanan."

Para prajurit melakukan apa yang diperintahkan Wu Zixu dan menemukan bahwa fondasi tembok itu dibangun dengan batu bata khusus yang terbuat dari tepung beras ketan. Makanan ini menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. Setelah itu, orang membuat nian gao setiap tahun untuk memperingati Wu Zixu. Seiring berjalannya waktu, nian gao menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai Kue Keranjang.

6 dari 6 halaman

Legenda Kue Keranjang: monster pemakan manusia

Kisah lain tentang asal usul Kue Keranjang melibatkan monster pemakan manusia. Melansir South China Morning Post, dikisahkan dulu ada monster bernama Nian. Ia berburu binatang secara normal, kecuali di musim dingin ketika kebanyakan hewan berlindung di gua.

Di musim dingin, Nian akan beralih memburu orang. Oleh karena itu, suku bernama Gao akan menyiapkan banyak kue beras dan menyajikannya untuk monster itu, untuk menyelamatkan orang-orang. Praktik membuat kue beras tetap ada, dan menjadi tradisi tahun baru.

Ada juga variasi dalam kisah ini, tetapi semuanya memiliki akhir yang sama – kue beras menyelamatkan orang-orang dari dimakan oleh monster Nian, dan sebagai hasilnya, dibuat setiap tahun.