Sukses

Idap Sindrom Air Mata Buaya, Pria Ini Menangis Setiap Makan

Liputan6.com, Jakarta Seiring perkembangan zaman, berbagai penyakit baru bermunculan. Selain harus waspada, keunikan jenis penyakit juga membuat manusia tak habis pikir. Baru-baru ini seorang pria didiagnosa mengidap Sindrom Air Mata Buaya tergolong kondisi langka

Melansir dari Oddity Central, pria yang disebut namanya sebagai Mr. Zhang tersebut mengeluhkan air matanya yang selalu keluar di saat makan. Mulanya ia tak terlalu khawatir, namun air matanya keluar semakin deras dan membuat Zhang panik.

“Dia tidak terlalu memikirkannya pada awalnya, tetapi tangisannya menjadi lebih buruk ketika dia perlu mengunyah lebih lama, dan ini mengganggu kehidupan sosialnya,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Oddity Central.

Kondisi medis yang unik dan langka ini seketika menjadi perhatian. Pasalnya, menangis biasanya dipicu oleh reaksi emosional yang kuat, seperti kesedihan, rasa sakit, atau tawa yang tak terkendali. 

Semakin lama Zhang mengunyah makanan, semakin banyak ia meneteskan air mata. Berikut selengkapnya Liputan6.com merangkum kisahnya melansir dari Oddity Central, Senin (7/3/2022).

2 dari 3 halaman

Sindrom Langka Air Mata Buaya

Sempat memilih menyembunyikan penyakit langkanya, Zhang akhirnya memutuskan untuk menemui dokter mata. Di rumah sakit daerah Wuhan, Zhang menjalani pemeriksaan, dan didiagnosis dengan kondisi medis langka yang umumnya dikenal sebagai “sindrom air mata buaya”

Dr. Cheng Mian Chinh, kepala Departemen Oftalmologi di rumah sakit tersebut menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan erat dengan kelumpuhan wajah pria itu sebelumnya.

Kini Zhang harus menjalani perawatan dan terapi secara intensif. Bahkan ia juga dianjurkan untuk melakukan suntik protein neurotoksin untuk menangkal keluar air mata saat makan. 

3 dari 3 halaman

Kesalahan Saraf

Dokter akhirnya mengetahui penyebab sindrom air mata buaya tersebut disebabkan oleh kelumpuhan. Kelumpuhan wajah telah mempengaruhi aktivitas kelenjar lakrimal, terutama yang ada di mata kirinya. Selama periode pemulihan, serabut saraf wajah menjadi salah arah, dan saraf saliva akhirnya menginervasi kelenjar lakrimal dan bukan kelenjar submandibular.

Hasil dari kesalahan arah saraf wajah ini adalah bahwa rangsangan seperti bau atau rasa makanan, alih-alih menyebabkan air liur, merangsang kelenjar lakrimal untuk menghasilkan air mata.