Sukses

Menyeramkan, 5 Buku Ini Sampulnya Dibuat dari Kulit Manusia

Liputan6.com, Jakarta Sampul buku dibuat dengan tujuan untuk membuat kemasan buku terlihat menarik, sehingga buku tersebut memiliki nilai jual yang tinggi. Lazimnya, sampul buku dibuat dari kertas biasa. Namun bagaimana jika sampul bukunya dibuat dari kulit manusia? Mungkin sebagian dari kamu berpikiran hal ini hanya ada di film horor saja. Tapi kenyataannya membuat sampul buku dengan kulit manusia sudah ada sejak dulu.

Di kalangan ilmuwan, menggunakan kulit manusia sebagai sampul buku dikenal dengan istilah “anthropodermic bibliopegy”. Walaupun hal ini dianggap sebagai hal yang menyeramkan dan tidak etis jika memakai standar masa kini, cara menggunakan kulit manusia sebagai sampul buku ternyata cukup sering dilakukan sejak abad ke-17.

Karena bahan yang digunakan bukanlah bahan yang umum, cara ini pun kerap mengundang cerita-cerita miring yang tak jarang berunsur mistis. Berikut ini Liputan6.com lansir dan Top Tenz, Selasa (16/4/2019), 5 buku yang sampulnya dibuat dari kulit manusia.

2 dari 6 halaman

1. A True and Perfect Relation of the Whole Proceedings Against the Late Most Barbarous Traitors (1606)

Buku ini berisi kisah mengenai gagalnya Plot Mesiu di Inggris dan apa yang terjadi sesudahnya. Plot Mesiu adalah suatu rencana yang dirancang oleh orang-orang Katolik Inggris di tahun 1605 untuk membunuh James (raja Inggris yang beragama Protestan), putra sulungnya, serta sebagian besar anggota parlemen Inggris.

Salah satu peserta Plot Mesiu yang paling dihormati adalah Guy Fawkes, di mana ilustrasi wajahnya menjadi sumber inspirasi topeng karakter utama film V For Vendetta, serta lambang gerakan Anonymous di dunia maya. Selain Fawkes, peserta lain plot ini adalah Henry Garnet, kepala gerakan Jesuit Kristen di Inggris. Kulit Garnet inilah yang kemudian diambil untuk dijadikan bahan pembuat sampul buku ini karena mereka percaya, tindakan ini akan membuat Garnet mengalami penderitaan abadi akibat pembangkangannya.

3 dari 6 halaman

2. Leeds, England Ledger (1700-an)

Pada tahun 2006, sebuah buku besar berusia 3 abad tanpa sengaja ditemukan di kota Leeds, Inggris. Buku ini diketahui ditulis dalam bahasa Perancis dan diprediksi dibuat pada tahun 1700-an. Penemuan tersebut sekaligus memunculkan spekulasi kalau buku ini mungkin dibuat pada masa Revolusi Perancis, masa di mana penggunaan kulit manusia untuk menjilid buku sedang populer-populernya. Selebihnya, masih belum diketahui siapa identitas orang yang kulitnya dijadikan sampul buku ini.

4 dari 6 halaman

3. Dictionary (1818)

Samuel Johnson adalah seorang penulis merangkap pakar bahasa Inggris yang amat disegani pada masanya. Salah satu hasil karyanya adalah sebuah kamus (dictionary) yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1755 dan memuat lebih dari 40 ribu kata. Tahun 1818, seorang penjahat bernama James Johnson dihukum mati di Norwich dan kulitnya kemudian digunakan untuk menyampuli sebuah buku kopian kamus buatan Samuel.

5 dari 6 halaman

4. Narrative of the Life of James Allen (1837)

James Allen adalah seorang penjahat yang dijebloskan ke dalam penjara Turnpike, Massachussets, AS, karena melakukan upaya perampokan kepada John A. Fenno. Menjelang kematiannya, Allen meminta supaya kopian memonya dijilid memakai kulitnya sendiri dan disumbangkan kepada Fenno. Permintaan Allen tersebut dituruti dan keluarga Fenno lalu dikirimi buku yang disampul memakai kulit Allen.

6 dari 6 halaman

5. The Poetical Works of John Milton (1852)

Pada tahun 1830, George Cudmore membunuh istrinya dengan cara mencampurkan racun ke dalam apel dan susu yang hendak diminumnya. Cudmore kemudian ditangkap polisi Inggris dan dihukum mati. Sesudah ia wafat, mayatnya dipindahkan ke rumah sakit Exeter dan kulitnya diambil.

Seorang pengelola toko buku setempat yang bernama W. Clifford kemudian menggunakan kulit Cudmore untuk menyampuli buku kumpulan puisi John Milton. Di bagian depan buku, terdapat tulisan yang menjelaskan kenapa Cudmore bisa sampai dijatuhi hukuman mati. Sekarang buku yang sama disimpan di Perpustakaan Studi Westcountry, Exeter.

Loading