Sukses

Kecanduan Media Sosial? Awas, 5 Gangguan Mental Ini Bisa Menghantui

Liputan6.com, Jakarta Media sosial seakan sudah menjadi salah satu kebutuhan utama sekarang ini, terutama untuk anak muda. Mereka seakan hidup di dunia maya dengan media sosialnya tanpa mempedulikan lingkungannya, tempat berinteraksi sosial yang sebenarnya. Bahkan tak sedikit orang yang menjadi kecanduan media sosial.

Walaupun tentunya ada juga banyak manfaat dan keuntungan menggunakan media sosial, namun tetap harus memikirkan kehidupan sosial yang sebenarnya, yakni dunia nyata. Tidak jarang banyak remaja dan anak-anak memanfaatkan media sosial ini dengan tidak semestinya.

Kecanduan media sosial memiliki berbagai dampak terhadap terganggunya mental seseorang. Sudah semestinya orang tua selalu mengawasi anak dalam menggunakan media sosialnya. Orang dewasa juga harus bijak dalam memanfaatkan produk teknologi yang sedang berkembang pesat ini.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (17/6/2019) tentang gangguan mental yang menghantui pecandu media sosial.

2 dari 6 halaman

1. Body Dysmorphic Disorder

Gangguan mental ini merupakan penyakit dimana seseorang menghabiskan banyak waktu untuk mengkhawatirkan kekurangan penampilannya. Kekurangan ini sering tidak disadari oleh orang lain. Contohnya saja saat kamu merasa pipi terlalu tembam, atau hidung terlalu pesek dan lain sebagainya. Tapi orang lain menganggap hal tersebut tidak masalah.

Kondisi gangguan jiwa ini dapat dialami oleh segala rentang usia, namun paling sering dialami oleh remaja dan orang usia produktif, baik pria maupun wanita. Orang yang mengalami gangguan ini akan selalu merasa ada yang salah dengan rambut, kulit, hidung, dada, perutnya, dan bagian tubuh lainnya. Padahal pada kenyataannya, kekurangan tersebut tidak diperhatikan oleh orang lain.

Orang-orang ini bakal terobsesi dengan penampilannya hingga berjam-jam lamanya. Gangguan mental ini bisa mengakibatkan seseorang mengalami rendah diri, menghindari kegiatan sosial dan mengalami masalah berkomunikasi dengan orang lain.

3 dari 6 halaman

2. Social Media Anxiety Disorder

Gangguan mental satu ini dapat dilihat dengan tanda seseorang yang tidak bisa lepas dari smartphone untuk mengecek akun media sosialnya. Orang-orang yang terkena social media anxiety disorder ini biasanya sangat terobsesi dengan jumlah followers, likes, serta komentar di post mereka. Mereka akan merasa selalu gelisah bila jumlahnya tidak sesuai dengan yang diinginkannya.

Orang yang mengidap social media anxiety disorder ini ditandai dengan gejala selalu ingin update di media sosial. Bahkan walaupun sebenarnya tidak ada pemberitahuan apa-apa, dia akan tetap mengcek smartphone secara berulang-ulang.

4 dari 6 halaman

3. Fear of Missing Out (FOMO)

Gangguan mental selanjutnya adalah Fear of Missing Out (FOMO) yang merupakan sebuah kondisi saat seseorang takut merasa ketinggalan informasi dari media sosial. Meraka selalu ingin tahu apa yang dibahas di media sosial dan tidak pernah lepas dari smartphone mereka walau beberapa menit saja. Orang-orang yang mengidap FOMO ini akan merasa gelisah bila tidak dapat terhubung dengan media sosialnya dan mereka tidak sadar bahwa kelakuan mereka tersebut tidak wajar.

5 dari 6 halaman

4. Borderline Personality Disorder

Borderline Personality Disorder ini beda lagi. gangguan mental satu ini ditandai dengan pikiran negatif yang selalu hinggap di kepala. Orang-orang ini merasa minder, tidak diterima, selalu merasa rendah diri, dan tidak diterima oleh lingkungan. Sebagai contoh, saat kamu tidak diundang pada acara reuni atau kumpul-kumpul bersama teman-teman sekolah, sedangkan kamu tidak mendapatkan undangan. Dari hal tersebut, bisa saja muncul pikiran negatif dari dalam dirimu yang mungkin sebenarnya bukan begitu kejadian yang sebenarnya. Jadi gangguan mental ini terbentuk karena prasangka yang belum bisa dipastikan kebenarannya.

6 dari 6 halaman

5. Compulsive Shopping

Gangguan mental selanjutnya adalah compulsive shopping. Penyakit satu ini berkaitan dengan banyaknya orang yang memperlihatkan foto menggunakan pakaian-pakaian yang mahal dan mentereng. Melihat banyaknya pujian dari komentar maupun yang menyukai foto mereka, maka seorang compulsive shopping mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tersebut.

Masalahnya disini adalah, bila sebenarnya keuangan seseorang tidak mencukupi untuk dibayarkan pada barang-barang tersebut, maka dia tetap harus mendapatkannya walaupun harus berhutang dulu. Hal ini tentunya sangat sia-sia dan malah akan merugikan bila tidak diikuti dengan rencana yang matang ke depannya. Oleh karena itu, kamu bisa melihat sekitar dan menyadari bahwa tidak semua orang harus berpakaian mahal agar dihargai.