Sukses

Arti Kata Kafir dalam Islam, Pahami Maknanya dengan Bijak

Liputan6.com, Jakarta Arti kata kafir dalam Islam tampaknya perlu direnungkan lagi oleh banyak orang. Sekarang ini, kata kafir sangat sering disalah artikan dan digunakan tidak pada tempat yang semestinya. Memang diperlukan pengertian yang dalam dan pikiran yang terbuka dalam memaknainya. 

Kata kafir merupakan istilah umum bagi Agama Islam yang bahkan cukup sering disebutkan dalam Al-Quran. Belakangan ini istilah kafir ini menimbulkan polemik karena dianggap sebagai julukan yang bersifat ofensif bagi umat non-Muslim di Indonesia.

Arti kata kafir dalam Islam memang perlu dimaknai dengan tepat oleh setiap orang. Berbagai polemik dan pertikaian yang terjadi karena kata-kata kafir tersebut sebenarnya bisa terjadi hanya karena banyaknya orang yang belum mengerti maknanya.

Selain itu, tentu saja intensi seseorang dalam mengucapkan sebuah kata juga harus diperhatikan. Tentunya suatu perkataan tidak akan ditanggapi dengan respons negatif jika maksud seseorang dalam mengucapkannya juga tidak bermakna negatif.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (28/11/2019) tentang arti kata kafir dalam islam

2 dari 4 halaman

Arti Kata Kafir Secara Etimologi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri, kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Mungkin pengertian ini juga bisa membantu dalam memaknai arti kata kafir dalam islam.

Sebelum mengetahui arti kata kafir dalam islam, baiknya kamu memahami kata kafir secara etimologi terlebih dahulu. Kata kāfir memiliki akar kata K-F-R yang berasal dari kata kufur yang berarti menutup.

Pada zaman sebelum datangnya Agama Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, kemudian menutup (mengubur) dengan tanah. Sehingga kalimat kāfir bisa dimplikasikan menjadi "seseorang yang bersembunyi atau menutup diri". Dengan demikian kata kafir menyiratkan arti seseorang yang bersembunyi atau menutup diri.

3 dari 4 halaman

Kata Kafir dalam Al-Quran

Kamu juga bisa mengambil arti kata kafir dalam islam dari dalam Al-Quran. Penggunaan kata akfir dalam Islam dalam Al-Quran memiliki berbagai makna yang berbeda, yaitu:

Kufur at-tauhid (Menolak Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Esa):

Arti kata kafir dalam Islam ini adalah menolak tauhid, atau menolak bahwa Tuhan itu Esa. Seperti yang terkandung dalam Surat Al-Maidah ayat 73, berikut:

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maidah ayat 73)

Arti kata kafir dalam islam juga bisa merujuk pada Quran Surat Al Maidah ayat 17 ini, yang artinya:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?" Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al-Maidah ayat 17)

Kufur al-ni`mah (Mengingkari Nikmat):

Selanjutnya, arti kata kafir dalam islam selanjutnya adalah mengingkari nikmat. Kata ini dialamatkan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan.

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (la takfurun). (Al-Baqarah ayat 152)

Berbagai arti kata kafir dalam islam ini tentunya harus disikapi dengan bijak. Diperlukan saling pengertian dengan pemahaman yang dalam tentang makna kata kafir bagi setiap orang agar tidak ada salah paham antar umat beragama.

 

4 dari 4 halaman

Arti Kata Kafir dalam Islam

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin, mengungkapkan bahwa kafir merupakan konsep teologis sekaligus etis (berhubungan dengan pandangan ketuhanan dan sikap terhadap hal ketuhanan). Sesuai arti harfiyahnya yaitu "menutup", maka kafir menunjukkan perilaku menutup diri, tidak mau menerima, atau mengingkari kebenaran tentang Allah dan ajaran-ajaran Allah yang diturunkan sebagai wahyu kepada manusia melalui rasul-rasul pilihanNya.

Dalam hal ini, kafir bisa dinisbatkan kepada mereka yang tidak beriman kepada Allah dan ajaran-ajaranNya, atau kepada mereka yang walaupun beriman kepada Allah tapi membangkangi ajaran-ajaranNya dan tidak bersyukur atas nikmatNya (ada istilah kafir akidah, kafir amal, atau kafir nikmat). Alquran juga mengenalkan konsep-konsep etis lain yang berhubungan dengan konsep kafir, seperti musyrik, fasiq, dan zholim.

Selain itu, arti kata kafir juga pernah dibahas oleh KH. Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha. Gus Baha menggarisbawahi, bahwa kafir di sini adalah dalam “bahasa agama”, kalau dalam konteks Negara tidak ada istilah kafir, yang ada adalah semua warga Negara.

Menurut Gus Baha, dalam bahasa agama, kafir ada dua, pertama kafir semitik atau ahli kitab (Yahudi-Nasrani). Yang kedua, adalah kafir musyrik (non semitik), tidak punya kitab, penyembah berhala (batu/patung/emas, dll). Kafir ahli kitab, dia masih percaya akan adanya hari kebangkitan, surga, neraka, dan hari hisab (perhitungan amal). Bahkan, surga menjadi klaim mereka (golongan merekalah yang nanti akan menempati). Sementara kafir musyrik adalah sebaliknya, yang anti terhadap hari kebangkitan, tidak beriman adanya surga dan neraka.

Arti kata kafir dalam Islam memang perlu dimaknai dengan tepat oleh setiap orang. Berbagai polemik dan pertikaian yang terjadi karena kata-kata kafir ini sebenarnya bisa terjadi hanya karena banyaknya orang yang belum mengerti maknanya.

Selain itu, tentu saja intensi seseorang dalam mengucapkan sebuah kata juga harus diperhatikan. Tentunya suatu perkataan tidak akan ditanggapi dengan respons negatif jika maksud seseorang dalam mengucapkannya juga tidak bermakna negatif.