Sukses

4 Cara Mengenal Allah dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya

Liputan6.com, Jakarta Cara mengenal Allah dalam Islam penting untuk diketahui. Sebagai umat Muslim, wajib percaya bahwa Allah SWT sebagai Tuhannya. Hal ini berguna untuk meningkatkan keimanan terhadap Tuhan dan agamanya.

Mengenal Allah lebih jauh dan dalam sangat dianjurkan bagi umat Islam. Hal ini merupakan bentuk upaya memperkuat keimanan. Ada beberapa cara mengenal Allah dalam Islam. Penjelasannya sudah banyak disebutkan lewat Al-Qur’an maupun dalam hadis.

Mengenal Allah akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Dengan begitu, umat Muslim dapat mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya.

Untuk mendapatkan diri yang benar-benar taat dan beriman, penting untuk mendalami Cara Mengenal Allah dalam Islam. Berikut ada empat cara mengenal Allah dalam Islam yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (17/1/2020).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

Mengenal Adanya Wujud Allah SWT

Cara mengenal Allah dalam Islam pertama dengan beriman kepada-Nya. Sebagai umat Muslim, kita harus meyakini bahwa Allah Pencipta seluruh makhluk yang benar-benar ada.

Selain melihat segala bentuk ciptaan-Nya yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya maka akal akan menyimpulkan bahwa keberadaan benda-benda tersebut tentu ada yang menciptakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya.

Selain itu, pancaindra kita juga mengakui adanya Allah SWT, karena kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah, dan meminta sesuatu pada-Nya untuk dikabulkan. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.

“Dan ingatlah ketika Rabbmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Rabb kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka’.” (Al-A’raf: 172-173)

3 dari 5 halaman

Mengenal Rububiyah Allah

Cara mengenal Allah dalam Islam selanjutnya dengan meyakini keesaan Rububiyah Allah. Sebagai umat Muslim, kita wajib meyakini keesaan Rububiyah Allah berupa bahwa hanya Allah yang mencipta, memiliki, menguasai, dan mengatur seluruh makhluk.

Jelasnya, bahwa hanya Allah yang menghidupkan, mematikan, memberi rizqi, mendatangkan kebaikan, hingga mendatangkan bencana. Allah yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum, dan lain sebagainya yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah SWT.

Dengan begitu, seorang umat Muslim harus meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang menandingi Allah SWT dalam hal ini. Allah berfirman:

“Segala puji bagi Allah, Rabb (Pemilik, Penguasa) semesta alam" (al-Fâtihah/1:2).

“’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash: 1-4)

Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.

4 dari 5 halaman

Mengenal Uluhiyah Allah

Cara mengenal Allah dalam Islam selanjutnya adalah dengan meyakini bahwa yang berhak diibadahi hanya Allah SWT. Tidak boleh memberikan ibadah kepada selain Allah, walaupun kepada makhluk yang dekat kepada-Nya, seperti malaikat atau Rasul.

Apalagi kepada makhluk yang derajatnya di bawah mereka, seperti manusia, jin, binatang, pohon, batu, senjata, planet, binatang, ataupun lainnya. Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (Al-Fatihah: 5)

Tujuan dari pengenalan keesaan Uluhiyah Allah ini adalah agar kita mencintai Allah, tunduk kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta mengesakan ibadah hanya kepada-Nya. Ibadah kepada Allah yaitu merendahkan diri dan taat kepada Allah SWT dengan penuh kecintaan, pengagungan, mengharapkan rahmat, dan takut terhadap siksa. Hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Adapun ruang lingkup ibadah, yaitu segala yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT, baik berupa perkataan dan perbuataan, yang lahir maupun yang batin. Ibadah akan diterima oleh Allah dengan dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah. Ikhlas yaitu: mencari ridha Allah semata, sedangkan mutaba’ah, yaitu mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad.

Oleh karena itu, orang yang meyakini keesaan hak Allah untuk diibadahi, dia akan mempersembahkan segala jenis ibadah hanya kepada-Nya semata. Di antara jenis-jenis ibadah adalah ketaatan yang mutlak dengan harap dan takut; kecintaan yang disertai ketundukan mutlak. Do’a; niat di dalam beribadah (ikhlas); menyembelih binatang; takut; tawakal; dan lainnya.

5 dari 5 halaman

Mengenal Nama-Nama dan Sifat Allah

Cara mengenal Allah dalam Islam lainnya dengan mengimani dan menetapkan seluruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang tersebut di dalam Kitab Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, dengan tanpa menyerupakan dengan makhluk. Allah berfirman:

“Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (al-A’raf/7: 180)

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."(asy-Syûrâ/42:11).

Demikian juga yang paling mengetahui tentang Allah di antara semua makhluk adalah Rasul-Nya. Sehingga penjelasan para Rasul tentang Allah adalah haq. Sedangkan perkataan orang-orang kafir dan musyrik tentang Allah hanyalah dugaan semata. Allah berfirman:

"Maha suci Rabbmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas Para rasul, dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam." (ash-Shaffat/37: 180-182)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS