Sukses

Penyebab Kaligata atau Biduran, Gejala, dan Cara Pengobatannya

Liputan6.com, Jakarta Penyebab kaligata atau biduran pada umumnya adalah reaksi alergi terhadap suatu benda atau zat yang mengakibatkan sistem imun mengeluarkan zat histamin. Zat histamin inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai gejala kaligata atau biduran.

Kaligata atau biduran sendiri adalah reaksi pada kulit yang ditandai dengan munculnya bentol berwarna kemerahan, disertai rasa gatal. Biduran yang disebut juga dengan urtikaria dapat muncul di seluruh bagian tubuh, bahkan tidak jarang muncul secara tiba-tiba.

Penyebab kaligata atau biduran perlu diperhatikan agar dapat dihindari. Umumnya biduran akan hilang dengan sendirinya atau dapat diredakan dengan mengonsumsi obat-obatan. Namun pada biduran kronis, biduran biasanya tidak kunjung hilang setelah beberapa minggu dan terjadi secara berulang.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (13/2/2020) tentang penyebab kaligata atau biduran.

2 dari 6 halaman

Mengenal Kaligata atau Biduran

Sebelum mengetahui penyebab kaligata atau biduran, kamu tentunya perlu mengenali penyakit ini terlebih dahulu. Kaligata atau biduran, atau yang dalam bahasa medis dikenal dengan urtikaria ini merupakan kondisi di mana kulit memiliki ruam yang menonjol dan gatal, muncul di salah satu bagian tubuh atau menyebar ke area yang lebih besar.

Kondisi ini bukanlah penyakit yang membahayakan, tapi bisa membuat kamu merasa tidak nyaman saat tidur atau sepanjang hari karena sensai gatal yang muncul.

Kaligata atau biduran ini biasanya lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun.

Biduran akut, juga dikenal sebagai urtikaria jangka pendek. Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 dari 5 orang pada waktu tertentu dan bisa dialami sekali dalam seumur hidup.

Sedangkan biduran kronis, atau urtikaria jangka panjang, lebih jarang terjadi. Urtikaria biasanya terjadi pada anak-anak, wanita di antara usia 30 – 60 tahun dan orang dengan sejarah alergi yang memiliki gejala gatal-gatal.

3 dari 6 halaman

Penyebab Kaligata atau Biduran

Penyebab kaligata atau biduran terjadi saat terpapar oleh reaksi alergi, bahan-bahan kimia pada makanan, sengatan serangga, paparan sinar matahari, atau obat-obatan. Hal-hal tersebut menyebabkan tubuh untuk mengeluarkan senyawa kimia yang disebut histamin.

Histamin ini akan menyebabkan pelepasan plasma dalam darah, sehingga memicu terjadinya rasa gatal dan pembengkakan jaringan di sekitarnya. Histamin dan zat kimia lain yang masuk ke dalam aliran darah inilah yang dapat menjadi penyebab kaligata atau biduran.

Berikut beberapa penyebab kaligata atau biduran secara umum:

Alergi Makanan

Penyebab kaligata atau biduran bisa terjadi karena alergi makanan tertentu seperti telur, kerang, kacang tanah, atau buah beri. Bentol merah akibat biduran bisa langsung muncul sesaat setelah seseorang makan makanan pemicu alergi, namun ada juga yang memerlukan waktu beberapa jam sebelum muncul gejala. Selain itu, biduran juga dapat dipicu oleh beberapa bahan makanan tambahan, termasuk pewarna buatan dan pengawet.

Reaksi Terhadap Suhu

Penyebab kaligata atau biduran berikutnya adalah paparan sinar matahari, suhu dingin, atau angin kencang. Hal ini lebih berkaitan kepada kondisi kulit yang sangat sensitif dengan berbagai cuaca di luar ruangan.

Selain dengan menghindari pemicu gatal, dokter mungkin akan meresepkan antihistamin untuk mengobati biduran akibat perubahan cuaca atau suhu. Dengan begitu, kamu bisa menikmati musim panas maupun musim dingin tanpa khawatir akan terkena biduran yang berulang.

Penyakit Tertentu

Biduran ternyata bukan sekadar rasa gatal dan bentol-bentol di kulit. Penyebab kaligata atau biduran juga bisa menandakan adanya masalah kesehatan pada tubuh. Pasien dengan penyakit lupus, limfoma, penyakit tiroid, hepatitis, maupun HIV sama-sama memiliki gejala gatal-gatal mirip biduran. Namun, jenis bidurannya tergolong kronis sehingga dapat diatasi dengan bantuan obat-obatan.

Selain itu, menurut American Osteopathic College of Dermatology, 50 persen kasus urtikaria kronis disebabkan oleh penyakit autoimun, yaitu saat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan tubuhnya sendiri. Penyakit tiroid merupakan salah satu penyakit autoimun yang paling sering dilaporkan oleh penderita biduran kronis, selanjutnya diikuti oleh keluhan rematik dan diabetes tipe 1.

4 dari 6 halaman

Penyebab Kaligata atau Biduran Lainnya

Keringat Setelah Olahraga

Bagi beberapa orang, kenaikan suhu tubuh atau keringat setelah olahraga dapat menjadi salah satu penyebab kaligata atau biduran. Saat berkeringat, tubuh memproduksi asetilkolin, yaitu bahan kimia yang menghambat pemecahan sel. Asetilkolin ini dapat mengganggu perkembangan sel-sel kulit sehingga kulit menjadi iritasi dan memicu ruam.

Alergi Debu

Masih terkait alergi, salah satu penyebab kaligata atau biduran yang mungkin jarang disadari adalah alergi debu. Alergi terhadap tungau debu rumah juga bisa menjadi penyebab kaligata atau biduran.

Tumpukan debu yang terkumpul di sudut-sudut rumah menyediakan tempat tinggal yang nyaman bagi tungau. Tungau juga hidup dari sel-sel kulit mati yang kamu lepaskan setiap hari, maka dari itu, salah satu area favorit mereka adalah kasur, spreai, sela-sela jahitan pinggir kasur, bantal, bahkan di koleksi boneka anak.

Stres

Penelitian menunjukkan bahwa stres merupakan biang keladi dari berbagai penyakit fisik dan mental, termasuk menjadi penyebab kaligata atau biduran ini. Stres berlebihan dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun sehingga lebih rentan terkena masalah kulit yaitu biduran.

Stres dan amarah dapat membuat tubuh melepaskan histamin. Akibatnya, tubuh memberikan respon peradangan dengan memunculkan bentol merah seperti biduran. Dokter mungkin akan menyarankan resep antihistamin untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan.

Selain itu, bila kemungkinan disebabkan oleh kondisi stres, maka kendalikan stres dengan beberapa cara seperti berolahraga, latihan pernapasan, atau meditasi.

5 dari 6 halaman

Gejala Biduran

Gejala utama kaligata atau biduran tentunya adalah munculnya bentol pada kulit yang berwarna kemerahan dan disertai rasa gatal. Ukuran bentol berbeda-beda dan dapat muncul di seluruh bagian tubuh. Gatal dan kemerahan pada bentol dapat bertambah parah jika kamu mengalami stres atau terpapar suhu panas.

Selain itu, ada beberapa gejala lain yang dapat terjadi saat kamu terkena biduran, antara lain:

- Pembengkakan pada bibir, kelopak mata, dan tenggorokan.

- Reaksi anafilaksis yang menimbulkan gejala berupa pusing, mual, keringat dingin, dan sesak napas.

Biduran dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa jam atau hari. Jika biduran tidak kunjung sembuh setelah beberapa hari, kamu perlu berkonsultasi dengan dokter. Jika biduran terus menyebar ke bagian tubuh lainnya, kamu mengalami demam ketika muncul biduran, dan mengalami pembengkakan di bibir dan kelopak mata, sebaiknya kamu segera berkonsultasi dengan dokter.

6 dari 6 halaman

Cara Pengobatan Biduran

Setelah mengenal penyebab dan berbagai gejalanya, kamu perlu juga mengetahui cara pengobatannya. Kasus biduran kebanyakan bersifat ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa jam atau hari.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu meredakan gejala biduran, di antaranya:

- Hindari menggaruk bagian yang bentol.

- Gunakan pakaian yang longgar dan ringan.

- Jangan memakai sabun yang mengandung bahan kimia yang keras, misalnya pewangi.

- Usahakan area kulit yang terkena biduran tetap dingin. Bila perlu, olesi dengan losion penyejuk atau beri kompres dingin untuk mengurangi rasa gatal.

- Hindari faktor pemicu biduran, seperti makanan, minuman beralkohol, obat pereda rasa sakit, stres, serta udara panas atau dingin.

- Catat setiap aktivitas yang dilakukan dan makanan yang dikonsumsi sebelum biduran muncul, agar dapat diketahui pemicunya.

Selain itu, kamu juga bisa mengobati biduran dengan menggunakan berbagai obat-obatan seperti obat antialergi, kortikosteroid, krim antidepresan, agonis reseptor leukotriene, omaluzimab, ciclosporin. Tentunya pemberian obat ini harus dengan persetujuan dokter terlebih dahulu.

Loading