Sukses

Tata Cara Wudhu Saat Puasa yang Benar, Agar Tidak Batal

Liputan6.com, Jakarta Apa arti dari wudhu? Secara bahasa, istilah wudhu berasal dari kata tawadda’a yang artiya menyucikan diri dari kata dasar wadu’ yang artinya bersih.

Tata cara wudhu yang benar adalah memenuhi syarat sah (Islam, tidak berhadas besar, pakai air suci, tidak ada yang menghalangi air sampai kulit serta bisa membedakan hal baik buruk) dan rukunnya (niat, berkumur, membersihkan lubang hidung, membasuh wajah, tangan, kepala, kaki, dan tertib atau urut).

Lalu seperti apa tata cara wudhu saat puasa yang benar agar tidak membatalkan?

Mayoritas ulama sepakat cara wudhu saat puasa yang benar adalah tidak berlebihan saat berkumur dan membersihkan lubang hidung (istinsyaq), karena bila berlebihan akan meningkatkan risiko air masuk dan membatalkan puasa.

Berikut Liputan6.com ulas lebih mendalam tentang tata cara wudhu saat puasa yang benar, Kamis (21/4/2022).

2 dari 4 halaman

Mengenal Wudhu

Wudhu berasal dari istilah tawaḍḍa’a yang berarti melakukan kegiatan menyucikan diri (sebelum sholat) dengan membasuh muka, tangan, kepala, dan kaki'. Kata ini berakar dari kata وَضُؤَ waḍu’a yang berarti bersih.

Wudhu adalah tindakan fisik dan spiritual untuk menyucikan diri sebelum memulai sholat atau ibadah lainnya dalam Islam. Ritual penyucian ini merupakan langkah wajib yang melibatkan mencuci tangan, mulut, lubang hidung, wajah, lengan, kepala dan kaki.

Tata cara wudhu harus diselesaikan dalam urutan yang diberikan tanpa jeda panjang di antara setiap langkah. Wudhu merupakan syarat wajib dari sholat.

Perintah berwudhu tertuang dalam Surat Al-Maidah ayat 6 yang berbunyi:

" Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur."

Dari ayat tersebut, seorang Muslim wajib mengetahui tata cara wudhu untuk bersuci. Sementara itu, dalam sebuah hadis disebutkan:

sabda Rasulullah SAW mengatakan, “ Allah tidak menerima sholat salah seorang di antara kamu sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu berkata:

“ Barangsiapa berwudhu seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju masjid dan sholatnya sebagai tambahan pahala baginya.” (HR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13).

3 dari 4 halaman

Tata Cara Wudhu Saat Puasa yang Benar

Memahami wudhu adalah syarat sah sholat. Wudhu adalah cara seorang muslim bersuci sebelum beribadah dan menghadap Allah SWT.

Wudhu adalah ritual membersihkan diri atau mensucikan diri dengan media air. Wudhu dimulai dengan membasuh tangan, berkumur dengan air, membersihkan lubang hidung dengan air, membasuh wajah, hingga kaki.

Apabila sudah memahami tata cara wudhu yang umum tersebut, apakah tata cara wudhu saat puasa dengan berkumur memasukkan air dalam mulut dan membersihkan hidung dengan memasukkan air di dalam lubang hidung tidak membatalkan?

Dalam kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab oleh Imam Nawawi menyebutkan, berkumur dengan sungguh-sungguh adalah cara wudhu yang benar dan sunnah. Berkumur artinya mengambil air dari tangan menggunakannya kedua bibir kemudian memutar-mutar air di dalam mulut lantas memuntahkannya.

Meski demikian, mayoritas ulama sepakat cara wudhu saat puasa yang benar adalah tidak berlebihan saat berkumur dan membersihkan lubang hidung (istinsyaq). Itu artinya cara wudhu dengan sungguh-sungguh berkumur saat puasa tidak lagi menjadi sunnah.

Dalam buku berjudul Ramadhankan Dirimu (2007) oleh Ishaq Subu (2007), cara wudhu saat puasa agar tidak membatalkan adalah tidak berlebihan saat berkumur-kumur dan menghirup air.

Rasulullah SAW bersabda:

"Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung (saat berwudhu), kecuali kamu dalam keadaan berpuasa." (Hadits shahih riwayat Ibnu Khuzaimah).”

Hal yang sama tentang cara wudhu saat puasa yang tidak membatalkan, dijelaskan dalam kitab Asna al-Mathalib Syarh Raudl ath-Thalib oleh Zakariya al-Anshari menyatakan, orang yang berpuasa maka tidak disunahkan untuk bersungguh-sungguh dalam berkumur karena khawatir membatalkan puasanya.

4 dari 4 halaman

Tata Cara Wudhu yang Benar

Di luar waktu puasa, tata cara wudhu yang benar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ini tata cara wudhu yang benar dan sesuai urutan dalam buku berjudul Panduan Sholat Lengkap (Wajib & Sunnah) oleh Saiful Hadi El Sutha:

1. Membaca Niat

Membaca niat wudhu ini dilangsungkan pada saat pertama kali anggota tubuh menyentuh air, yaitu ketika membasuh muka.

Ini bacaan niat wudhu bahasa Arab, latin, dan artinya:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul whudu-a lirof’il hadatsil ashghori fardhon lillaahi ta’aalaa

Artinya: "Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala"

2. Membasuh telapak tangan 3 kali hingga ke sela-sela jari.

3. Berkumur 3 kali.

4. Membersihkan lubang hidung 3 kali, dengan cara menghirup air ke dalam hidung untuk kemudian mengeluarkannya lagi.

5. Membasuh muka dari ujung kepala tumbuhnya rambut hingga bawah dagu.

6. Membasuh kedua tangan hingga siku sebanyak 3 kali.

7. Mengusap kepala 3 kali.

8. Mengusap kedua telinga secara bersamaan sebanyak 3 kali.

9. Mencuci kaki sampai mata kaki ataupun betis sebanyak 3 kali, diikuti dengan jari-jari kaki disela-selai dengan jari tangan.

10. Membaca doa setelah wudhu

أَشْهَدُ أَنْ لآّاِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Asyhadu allâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lahu wa asyhadu anna muhammadan 'abduhû wa rasûluhû, allâhummaj'alnî minat tawwâbîna waj'alnii minal mutathahhirîna.

Artinya: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bersuci (shalih)."